Infomasi Penting : SITUS REKOMENDASI DARI KAMI SAAT INI ADALAH JPOKER99.COM dan JBANDAR.COM, MIN DEPO RENDAH WINRATE MANTAP, SILAKAN DI GAS BOSKU

Wednesday, 18 March 2020

Legenda Asal Mula Raja Di Negeri Jambi

00:17 0 Comments
Jpoker99, Legend - Jambi dulu nya adalah bekas wilayah Kesultanan Islam Melayu Jambi (1500-1901 M). Konon, jauh sebelum adanya wilayah kesultanan ini, di negeri Jambi telah berdiri lima buah desa, namun belum memiliki seorang pemimpin atau raja. Untuk itu, para sesepuh dari kelima desa tersebut bersepakat untuk mencari seorang raja yang dapat memimpin dan mempersatukan kelima desa tersebut.

Setelah bermusyawarah, mereka bersepakat bahwa siapa pun dapat menjadi pemimpin, tapi dengan syarat harus lulus ujian. Ujian apakah yang harus ditempuh untuk menjadi pemimpin kelima desa tersebut? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam Legenda Asal Mula Raja Negeri Jambi berikut ini.

ILustrasi : Raja Di Jambi

Pada zaman dahulu, wilayah Negeri Jambi terdiri dari lima buah desa dan belum memiliki seorang raja. Desa tersebut adalah Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, dan Batin Duo Belas. Dari kelima desa tersebut, Desa Batin Duo Belaslah yang paling berpengaruh.

Semakin hari penduduk kelima desa tersebut semakin ramai dan kebutuhan hidup mereka pun semakin berkembang. Melihat perkembangan itu, maka muncullah suatu pemikiran di antara mereka bahwa hidup harus lebih teratur, harus ada seorang raja yang mampu memimpin dan mempersatukan mereka. Untuk itu, para sesepuh dari setiap desa berkumpul di Desa Batin Duo Belas yang terletak di kaki Bukit Siguntang (sekarang Dusun Mukomuko) untuk bermusyawarah.

”Sebelum kita memilih seorang raja di antara kita, bagaimana kalau terlebih dahulu kita tentukan kriteria raja yang akan kita pilih. Menurut kalian, apa kriteria raja yang baik itu?” tanya sesepuh dari Desa Batin Duo Belas membuka pembicaraan dalam pertemuan tersebut.

”Menurut saya, seorang raja harus memiliki kelebihan di antara kita,” jawab sesepuh dari Desa Tujuh Koto.

”Ya, Benar! Seorang raja harus lebih kuat, baik lahir maupun batin,” tambah sesepuh dari Desa Petajin.

”Saya sepakat dengan pendapat itu. Kita harus memilih raja yang disegani dan dihormati,” sahut sesepuh dari Desa Muaro Sebo.

”Apakah kalian semua setuju dengan pendapat tersebut?” tanya sesepuh dari Desa Batin Duo Belas.

”Setuju!” jawab peserta rapat serentak.

Akhirnya, mereka bersepakat tentang kriteria raja yang akan mereka pilih, yakni harus memiliki kelebihan di antara mereka.

”Tapi, bagaimana kita dapat mengetahui kelebihan masing-masing di antara kita?” tanya sesepuh dari Desa Sembilan Koto.

”Kalau begitu, setiap calon pemimpin harus kita uji kemampuannya,” jawab sesepuh Desa Batin Duo Belas.

”Bagaimana caranya?” tanya sesepuh Desa Petajin penasaran.

”Setiap calon harus melalui empat ujian, yaitu dibakar, direndam di dalam air mendidih selama tujuh jam, dijadikan peluru meriam dan ditembakkan, dan digiling dengan kilang besi. Siapa pun yang berhasil melalui ujian tersebut, maka dialah yang berhak menjadi raja. Apakah kalian setuju?” tanya sesepuh Desa Batin Duo Belas.

Semua peserta rapat setuju dan siap untuk mencari seorang calon raja. Mereka bersepakat untuk melaksanakan ujian tersebut dalam tiga hari kemudian di Desa Batin Duo Belas. Dengan penuh semangat, seluruh sesepuh kembali ke desa masing-masing untuk menunjuk salah seorang warganya untuk mewakili desa mereka dalam ujian tersebut. Tentunya masing-masing desa berharap memenangkan ujian tersebut. Oleh karena itu, mereka akan memilih warga yang dianggap paling sakti di antara mereka.

Waktu pelaksanaan ujian pun tiba. Semua warga dari kelima desa telah berkumpul di Desa Batin Duo Belas untuk menyaksikan lomba adu kesaktian yang mendebarkan itu. Setiap desa telah mempersiapkan wakilnya masing-masing. Sebelum perlombaan dimulai, peserta yang akan tampil pertama dan seterusnya diundi terlebih dahulu.

Setelah diundi, rupanya undian pertama jatuh kepada utusan dari Desa Sembilan Koto. Wakil desa itu pun masuk ke tengah gelanggang untuk diuji. Ia pun dibakar dengan api yang menyala-nyala, tapi tubuhnya tidak hangus dan tidak kepanasan. Ujian kedua, ia direndam di dalam air mendidih, namun tubuhnya tidak melepuh sedikit pun.

Ujian ketiga, ia dimasukkan ke dalam mulut meriam lalu disulut dengan api dan ditembakkan. Ia pun terpental dan jatuh beberapa depa. Ia segera bangun dan langsung berdiri tegak seperti tidak terjadi apa-apa. Seluruh penonton kagum menyaksikan kehebatan wakil dari Desa Sembilan Koto itu.

Ketika memasuki ujian terakhir, tiba-tiba suasana menjadi hening. Seluruh penonton menjadi tegang, karena ujian yang terakhir ini adalah ujian yang paling berat. Jika kesaktian wakil dari Desa Sembilan Koto itu kurang ampuh, maka seluruh tulangnya akan hancur dan remuk. Ternyata benar, belum sempat penggilingan itu menggiling seluruh tubuhnya, orang itu sudah meraung kesakitan, karena tulang-tulangnya hancur dan remuk. Penggilingan pun segera dihentikan. Wakil dari Desa Sembilan Koto itu dinyatakan tidak lulus ujian dan gagal menjadi raja Jambi.


Ujian berikutnya jatuh kepada wakil dari Desa Tujuh Koto.

”Wakil dari Desa Tujuh Koto dipersilahkan untuk memasuki gelanggang,” kata salah seorang panitia mempersilahkan.

Setelah beberapa saat menunggu, wakil dari Desa Tujuh Koto belum juga maju.

”Mana wakil dari Desa Tujuh Koto? Ayo, maju!” seru salah seorang panitia.

“Kalau tidak berani, lebih baik mundur saja!” tambahnya.

Merasa dilecehkan oleh panitia, calon dari Desa Tujuh Koto pun segera maju.

“Siapa takut? Kami dari Desa Tujuh Koto dak kenal kato undur, dak kenal kato menyerah!” seru wakil Desa Tujuh Koto itu dengan nada menantang.

Calon raja dari Desa Tujuh Koto pun diuji. Ia berhasil melalui ujian pertama hingga ujian ketiga. Namun, ia gagal pada ujian keempat. Akhirnya, ia pun gagal menjadi raja Jambi.

Ujian berikutnya dihadapi oleh wakil dari Desa Batin Duo Belas, kemudian diikuti oleh Desa Petajin dan Muaro Sebo. Namun, wakil dari ketiga desa tersebut semuanya gagal melalui ujian keempat, yakni digiling dengan kilang besi. Oleh karena semua wakil dari kelima desa tersebut gagal melalui ujian, maka mereka pun kembali mengadakan musyawarah.

“Bagaimana kalau kita mencari calon raja Jambi dari negeri lain?” usul sesepuh dari Desa Batin Duo Belas.

Usulan tersebut diterima oleh peserta rapat lainnya. Selanjutnya mereka mengutus dua wakil dari setiap desa untuk pergi mencari calon raja. Keesokan harinya, rombongan itu berangkat meninggalkan Negeri Jambi menuju ke negeri-negeri di sekitarnya. Di setiap negeri yang disinggahi, mereka menanyakan siapa yang bersedia menjadi raja Jambi dan tidak lupa pula mereka menyebutkan persyaratannya, yaitu harus mengikuti keempat ujian tersebut.

Sudah berpuluh-puluh negeri mereka singgahi, namun belum menemukan seorang pun yang bersedia menjadi raja Jambi, karena tidak sanggup menjalani keempat ujian tersebut. Rombongan itu pun kembali mengadakan musyawarah.

”Kita kembali saja ke Negeri Jambi. Mustahil ada orang yang mampu memenuhi syarat itu untuk menjadi raja Jambi,” keluh wakil Desa Petijan.

”Sabar, Saudara! Kita jangan cepat putus asa. Kita memang belum menemukan calon raja Jambi di beberapa negeri yang dekat ini. Tetapi, saya yakin bahwa di negeri jauh sana kita akan menemukan orang yang kita cari,” kata wakil Desa Muaro Sebo.

”Apa maksudmu?” tanya wakil Desa Petijan penasaran.

”Kita harus mengarungi samudera yang luas itu,” jawab wakil Desa Muaro Sebo dengan tenang.

”Kami setuju!” sahut wakil dari Desa Batin Duo Belas, Tujuh Koto, dan Sembilan Koto.

”Kalau begitu, kami juga setuju,” kata wakil Desa Petijan.

Akhirnya, rombongan itu bertekat untuk mengarungi samudera di ujung Pulau Sumatra. Setelah mempersiapkan segala keperluan, berangkatlah rombongan itu dengan menggunakan dendang(perahu besar). Setelah berhari-hari diombang-ambing oleh gelombang laut di tengah samudera yang luas itu, mereka pun tiba di Negeri Keling (India).

Mereka berkeliling di Negeri Keling yang luas itu untuk mencari orang yang bersedia menjadi Raja Negeri Jambi dengan ujian yang telah mereka tentukan. Semua orang yang mereka temui belum ada yang sanggup menjalani ujian berat itu.

Pada suatu hari, mereka mendengar kabar bahwa di sebuah kampung di Negeri Keling, ada seseorang yang terkenal memiliki kesaktian yang tinggi. Akhirnya, mereka pun menemui orang sakti itu.

”Permisi, Tuan! Kami adalah utusan dari Negeri Jambi. Negeri kami sedang mencari seorang raja yang akan memimpin negeri kami, tapi dengan syarat harus lulus ujian. Apakah Tuan bersedia?” tanya salah seorang dari rombongan itu sambil menceritakan ujian yang harus dijalani calon raja itu.

”Saya sanggup menjalani ujian itu,” jawab orang itu.

Rombongan itu segera membawa calon raja itu pulang ke Negeri Jambi. Setelah menempuh perjalanan selama berminggu-minggu, tibalah mereka di Negeri Jambi. Orang sakti itu disambut gembira oleh rakyat Jambi. Mereka berharap bahwa calon yang datang dari seberang lautan itu benar-benar orang yang sakti, sehingga lulus dalam ujian itu dan menjadi raja mereka.

Keesokan harinya, orang sakti itu pun diuji. Seperti halnya calon-calon raja sebelumnya, orang sakti itu pertama-tama dibakar dengan api yang menyala-nyala. Orang Keling itu benar-benar sakti, tubuhnya tidak hangus, bahkan tidak satu pun bulu romanya yang terbakar. Setelah diuji dengan ujian kedua dan ketiga, orang itu tetap tidak apa-apa.

Terakhir, orang itu akan menghadapi ujian yang paling berat, yang tidak sanggup dilalui oleh calon-calon raja sebelumnya, yaitu digiling dengan kilang besi yang besar. Pada saat ujian terakhir itu akan dimulai, suasana menjadi hening. Penduduk yang menyaksikan menahan napas. Dalam hati mereka ada yang menduga bahwa seluruh tubuh orang itu akan hancur dan remuk.

Ini adalah saat-saat yang mendebarkan. Ujian terakhir itu pun dimulai. Pertama-tama, kedua ujung jari-jari kaki orang Keling itu dimasukkan ke dalam kilang besi. Kilang mulai diputar dan sedikit demi sedikit tubuh orang Keling itu bergerak maju tertarik kilang besi yang berputar. Semua penduduk yang menyaksikannya menutup mata. Mereka tidak sanggup melihat tubuh orang Keling itu remuk. Namun apa yang terjadi? Mereka yang sedang menutup mata tidak mendengarkan suara jeritan sedikit pun.

Tetapi justru suara ledakan dahsyatlah yang mereka dengarkan. Mereka sangat terkejut saat membuka mata, kilang besi yang besar itu hancur berkeping-keping, sedangkan orang Keling itu tetap tidak apa-apa, bahkan ia tersenyum sambil bertepuk tangan. Penduduk yang semula tegang ikut bergembira, karena berhasil menemukan raja yang akan memimpin mereka.

Seluruh penduduk dari Desa Tujuh Koto, Sembilan Koto, Muaro Sebo, Petajin, dan Batin Duo Belas segera mempersiapkan segala keperluan untuk membangun sebuah istana yang bagus. Selain itu, mereka juga mempersiapkan bahan makanan untuk mengadakan pesta besar-besaran untuk meresmikan penobatan Raja Negeri Jambi. Beberapa bulan kemudian, berkat kerja keras seluruh warga, berdirilah sebuah istana yang indah dan orang Keling itu pun dinobatkan menjadi raja Jambi.

Yuk Segera Bergabung Bersama Kami Di Jpoker99 kami menyediakan 8 Jenis Permainan Dalam 1 ID bosku. Tidak perlu " 

Download Apk " karena Dijamin Poker Kami Bisa bermain Langsung Lewat HP Atau Pun Lewat Komputer bosku.
~ 8 Jenis Permainan ( Sakong, BANDAR POKER, Poker Texas Holdém, Domino99, BandarQ, AduQ, Capsa Susun, Bandar66 )
~ Deposit Pulsa Rate Tertinggi Buat Anda Bosku ( Telkomsel & XL )
~ Minimal Deposit 10 ribu
~ Minimal Withdraw 20 ribu
~ Tersedia 7 Bank Lokal Juga
~ Bank Online 24jam Kecuali Gangguan
~ Bebas Melakukan Transaksi DP / WD Dalam Satu Hari.
~ Bonus CashBack 0,3% 2x Seminggu / Bonus Referral 20% 
~ WA : +85578811422

 Daftar Sekarang

Monday, 16 March 2020

Cerita Legenda Asal Mula Terbentuknya Kolam Sampuraga

01:06 0 Comments
Masterceme, Legenda - Menurut masyarakat setempat, Kolam Sampuraga merupakan penjelmaan dari seorang pemuda bernama Sampuraga, yang dikutuk oleh ibu kandungnya sendiri. Kenapa Sampuraga dikutuk? Ingin tahu sebabnya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat Asal Mula Kolam Sampuraga berikut ini!

Cerita Legenda Asal Mula Terbentuknya Kolam Sampuraga

pada zaman dahulu kala di daerah Padang Bolak, hiduplah di sebuah gubuk reot seorang janda tua dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Sampuraga. Meskipun hidup miskin, mereka tetap saling menyayangi. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka setiap hari bekerja sebagai tenaga upahan di ladang milik orang lain. Keduanya sangat rajin bekerja dan jujur, sehingga banyak orang kaya yang suka kepada mereka.

Pada suatu siang, Sampuraga bersama majikannya beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang setelah bekerja sejak pagi. Sambil menikmati makan siang, mereka berbincang-bincang dalam suasana akrab. Seakan tidak ada jarak antara majikan dan buruh.

“Wahai, Sampuraga! Usiamu masih sangat muda. Kalau boleh saya menyarankan, sebaiknya kamu pergi ke sebuah negeri yang sangat subur dan peduduknya hidup makmur,” kata sang Majikan.

“Negeri manakah yang Tuan maksud?” tanya Sampuraga penasaran.

“Negeri Mandailing namanya. Di sana, rata-rata penduduknya memiliki sawah dan ladang. Mereka juga sangat mudah mendapatkan uang dengan cara mendulang emas di sungai, karena tanah di sana memiliki kandungan emas,” jelas sang Majikan.

Keterangan sang Majikan itu melambungkan impian Sampuraga.

“Sebenarnya, saya sudah lama bercita-cita ingin pergi merantau untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Saya ingin membahagiakan ibu saya,” kata Sampuraga dengan sungguh-sungguh.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

“Cita-citamu sangat mulia, Sampuraga! Kamu memang anak yang berbakti” puji sang Majikan.

Sepulang dari bekerja di ladang majikannya, Sampuraga kemudian mengutarakan keinginannya tersebut kepada ibunya.

“Bu, Raga ingin pergi merantau untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Raga ingin mengubah nasib kita yang sudah lama menderita ini,” kata Sampuraga kepada ibunya.

“Ke manakah engkau akan pergi merantau, anakku?” tanya ibunya.

“Ke negeri Mandailing, bu. Pemilik ladang itu yang memberitahu Raga bahwa penduduk di sana hidup makmur dan sejahterta, karena tanahnya sangat subur,” jelas Sampuraga kepada ibunya.

“Pergilah, anakku! Meskipun ibu sangat khawatir kita tidak bisa bertemu lagi, karena usia ibu sudah semakin tua, tapi ibu tidak memiliki alasan untuk melarangmu pergi. Ibu minta maaf, karena selama ini ibu tidak pernah membahagiakanmu, anakku” kata ibu Sampuraga dengan rasa haru.

“Terima kasih, bu! Raga berjanji akan segera kembali jika Raga sudah berhasil. Doakan Raga, ya bu!“ Sampuraga meminta doa restu kepada ibunya.

“Ya, anakku! Siapkanlah bekal yang akan kamu bawa!” seru sang ibu.

Setelah mendapat doa restu dari ibunya, Sampuraga segera mempersiapkan segala sesuatunya.

Keesokan harinya, Sampuraga berpamitan kepada ibunya. “Bu, Raga berangkat! Jaga diri ibu baik-baik, jangan terlalu banyak bekerja keras!” saran Sampuraga kepada ibunya.

“Ya,  berhati-hatilah di jalan! Jangan lupa cepat kembali jika sudah berhasil!” harap sang ibu.

Sebelum meninggalkan gubuk reotnya, Sampuraga mencium tangan sang Ibu yang sangat disayanginya itu. Suasana haru pun menyelimuti hati ibu dan anak yang akan berpisah itu. Tak terasa, air mata keluar dari kelopak mata sang Ibu. Sampuraga pun tidak bisa membendung air matanya. Ia kemudian merangkul ibunya, sang Ibu pun membalasnya dengan pelukan yang erat, lalu berkata: “Sudahlah, Anakku! Jika Tuhan menghendaki, kita akan bertemu lagi,” kata sang Ibu.

Setelah itu berangkatlah Sampuraga meninggalkan ibunya seorang diri. Berhari-hari sudah Sampuraga berjalan kaki menyusuri hutan belantara dan melawati beberapa perkampungan. Suatu hari, sampailah ia di kota Kerajaan Pidoli, Mandailing. Ia sangat terpesona melihat negeri itu. Penduduknya ramah-tamah, masing-masing mempunyai rumah dengan bangunan yang indah beratapkan ijuk. Sebuah istana berdiri megah di tengah-tengah keramaian kota. Candi yang terbuat dari batu bata terdapat di setiap sudut kota. Semua itu menandakan bahwa penduduk di negeri itu hidup makmur dan sejahtera.

Di kota itu, Sampuraga mencoba melamar pekerjaan. Lamaran pertamanya pun langsung diterima. Ia bekerja pada seorang pedagang yang kaya-raya. Sang Majikan sangat percaya kepadanya, karena ia sangat rajin bekerja dan jujur. Sudah beberapa kali sang Majikan menguji kejujuran Sampuraga, ternyata ia memang pemuda yang sangat jujur. Oleh karena itu, sang Majikan ingin memberinya modal untuk membuka usaha sendiri. Dalam waktu singkat, usaha dagang Sampuraga berkembang dengan pesat. Keuntungan yang diperolehnya ia tabung untuk menambah modalnya, sehingga usahanya semakin lama semakin maju. Tak lama kemudian, ia pun terkenal sebagai pengusaha muda yang kaya-raya.

Sang Majikan sangat senang melihat keberhasilan Sampuraga. Ia berkeinginan menikahkan Sampuraga dengan putrinya yang terkenal paling cantik di wilayah kerajaan Pidoli.

“Raga, engkau adalah anak yang baik dan rajin. Maukah engkau aku jadikan menantuku?” tanya sang Majikan.

“Dengan senang hati, Tuan! Hamba bersedia menikah dengan putri Tuan yang cantik jelita itu,” jawab Sampuraga.

Pernikahan mereka diselenggarakan secara besar-besaran sesuai adat Mandailing. Persiapan mulai dilakukan satu bulan sebelum acara tersebut diselenggarakan. Puluhan ekor kerbau dan kambing yang akan disembelih disediakan. Gordang Sambilan[1] dan Gordang Boru[2] yang terbaik juga telah dipersiapkan untuk menghibur para undangan.

Berita tentang pesta pernikahan yang meriah itu telah tersiar sampai ke pelosok-pelosok daerah. Seluruh warga telah mengetahui berita itu, termasuk ibu Sampuraga. Perempuan tua itu hampir tidak percaya jika anaknya akan menikah dengan seorang gadis bangsawan, putri seorang pedagang yang kaya-raya.

“Ah, tidak mungkin anakku akan menikah dengan putri bangsawan yang kaya, sedangkan ia adalah anak seorang janda yang miskin. Barangkali namanya saja yang sama,” demikian yang terlintas dalam pikiran janda tua itu.

Walaupun masih ada keraguan dalam hatinya, ibu tua itu ingin memastikan berita yang telah diterimanya. Setelah mempersiapkan bekal secukupnya, berangkatlah ia ke negeri Mandailing dengan berjalan kaki untuk menyaksikan pernikahan anak satu-satunya itu. Setibanya di wilayah kerajaan Pidoli, tampaklah sebuah keramaian dan terdengar pula suara Gordang Sambilanbertalu-talu. Dengan langkah terseok-seok, nenek tua itu mendekati keramaian. Alangkah terkejutnya, ketika ia melihat seorang pemuda yang sangat dikenalnya sedang duduk bersanding dengan seorang putri yang cantik jelita. Pemuda itu adalah Sampuraga, anak kandungnya sendiri.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Oleh karena rindu yang sangat mendalam, ia tidak bisa menahan diri. Tiba-tiba ia berteriak memanggil nama anaknya.

“Sampuragaaa…!”

Sampuraga sangat terkejut mendengar suara yang sudah tidak asing di telinganya. “Ah, tidak mungkin itu suara ibu,” pikir Sampuraga sambil mencari-cari sumber suara itu di tengah-tengah keramaian. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba seorang nenek tua berlari mendekatinya.

“Sampuraga…Anakku! Ini aku ibumu, Nak!” seru nenek tua itu sambil mengulurkan kedua tangannya hendak memeluk Sampuraga.

Sampuraga yang sedang duduk bersanding dengan istrinya, bagai disambar petir. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi merah membara, seakan terbakar api. Ia sangat malu kepada para undangan yang hadir, karena nenek tua itu tiba-tiba mengakuinya sebagai anak.

“Hei, perempuan jelek! Enak saja kamu mengaku-ngaku sebagai ibuku. Aku tidak punya ibu jelek seperti kamu! Pergi dari sini! Jangan mengacaukan acaraku!”, hardik Sampuraga.

“Sampuragaaa…, Anakku! Aku ini ibumu yang telah melahirkan dan membesarkanmu. Kenapa kamu melupakan ibu? Ibu sudah lama sekali merindukanmu. Rangkullah Ibu, Nak!” Iba perempuan tua itu.

“Tidak! Kau bukan ibuku! Ibuku sudah lama meninggal dunia. Algojo! Usir nenek tua ini!” Perintah Sampuraga.

Hati Sampuraga benar-benar sudah tertutup. Ia tega sekali mengingkari dan mengusir ibu kandungnya sendiri. Semua undangan yang menyaksikan kejadian itu menjadi terharu. Namun, tak seorang pun yang berani menengahinya.

Perempuan tua yang malang itu kemudian diseret oleh dua orang sewaan Sampuraga untuk meninggalkan pesta itu. Dengan derai air mata, perempuan tua itu berdoa:

“Ya, Tuhan! Jika benar pemuda itu adalah Sampuraga, berilah ia pelajaran! Ia telah mengingkari ibu kandungnya sendiri.”

Seketika itu juga, tiba-tiba langit diselimuti awan tebal dan hitam. Petir menyambar bersahut-sahutan. Tak lama kemudian, hujan deras pun turun diikuti suara guntur yang menggelegar seakan memecah gendang telinga. Seluruh penduduk yang hadir dalam pesta berlarian menyelamatkan diri, sementara ibu Sampuraga menghilang entah ke mana. Dalam waktu singkat, tempat penyelenggaraan pesta itu tenggelam seketika. Tak seorang pun penduduk yang selamat, termasuk Sampuraga dan istrinya.

Beberapa hari kemudian, tempat itu telah berubah menjadi kolam air yang sangat panas. Di sekitarnya terdapat beberapa batu kapur berukuran besar yang bentuknya menyerupai kerbau. Selain itu, juga terdapat dua unggukan tanah berpasir dan lumpur warna yang bentuknya menyerupai bahan makanan. Penduduk setempat menganggap bahwa semua itu adalah penjelmaan dari upacara pernikahan Sampuraga yang terkena kutukan. Oleh masyarakat setempat, tempat itu kemudian diberi nama “Kolam Sampuraga”. Hingga kini, tempat ini telah menjadi salah satu daerah pariwisata di daerah Mandailing yang ramai dikunjungi orang.

Selamat datang di Masterceme
Hanya 1 user id bisa memainkan 7 jenis permainan.
Minimal Deposit & Withdraw hanya 25.000/50.000
Bonus New Member 20%
Bonus Deposit Harian
Bonus Referal Sebesar 20%
Link : Masterceme{dot}com
WA : +85578968600

 Daftar Sekarang

Friday, 13 March 2020

Cerita Rakyat Si Bungsu Dan Tujuh Bersaudara

23:08 0 Comments
Masterceme, Cerita Rakyat - di sebuah kampung di daerah Lampung, Indonesia, tinggallah suami-istri bersama dengan tujuh orang putrinya. Untuk menghidupi keluarganya, sang Ayah mencari kayu bakar di hutan dan menjualnya ke pasar. Namun, hasil yang didapatkan tidak cukup untuk mereka makan bersama. Mereka tidak pernah makan sampai kenyang. Agar bisa makan kenyang tanpa diganggu oleh anak-anaknya, sang Ayah dan sang Ibu sering menyisihkan makanan untuk mereka makan pada malam harinya, di saat ketujuh putrinya sedang tertidur lelap.

Cerita Rakyat Si Bungsu Dan Tujuh Bersaudara

Pada suatu malam, sang Ayah dan sang Ibu sedang asyik menikmati makan malam berdua. Tanpa disadarinya, si Bungsu Tujuh Bersaudara terbangun dan melihat mereka sedang makan. Si Bungsu pun segera membangunkan kakaknya yang sedang tertidur pulas.

“Kakak-kakak…!” ucap si Bungsu dengan pelan.

Keenam kakaknya pun terbangun. Saat melihat kedua orang tuanya makan, mereka pun ikut makan, sehingga membuat kedua orang tua mereka tidak kenyang. Hal itu membuat mereka kesal dan berniat untuk membuang ketujuh putrinya.

Pada suatu malam, sepasang suami-istri itu bermusyawarah untuk membuang ketujuh putrinya ke hutan yang jauh dari perkampungan. Namun, lagi-lagi si Bungsu terbangun dan mengetahui rencana mereka. Secara diam-diam, si Bungsu pun menyiapkan buah kemiri yang banyak untuk menandai jalan yang akan mereka tempuh saat menuju ke tengah hutan, sehingga ia bersama kakaknya dapat mengetahui jalan pulang ke rumah.

Keesokan harinya, sang Ayah dan sang Ibu mengajak ketujuh putrinya ke hutan dengan alasan untuk membantu mereka mencari kayu bakar. Setibanya di hutan, diam-diam sang Ayah meminta kawanan kera agar menyahut jika anak-anaknya memanggilnya, dan kepada kawanan burung pagut agar mematuk-matuk pohon agar anak-anak mereka mengira ayah dan ibunya masih berada di dalam hutan. Ketika ketujuh bersaudara itu sedang asyik mengumpulkan kayu bakar, sang Ayah mengajak istrinya untuk meninggalkan mereka secara diam-diam.

“Istriku! Ayo kita tinggal hutan ini selagi mereka sibuk mengumpulkan kayu bakar,” bisik sang Ayah ke istrinya.

Akhirnya, mereka meninggalkan hutan itu tanpa sepengetahuan ketujuh putrinya. Beberapa saat kemudian, terdengarlah suara ketujuh putrinya memanggil.

“Ayah… Ibu…! Kalian di mana?” teriak ketujuh anak itu serentak.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Mendengar teriakan itu, kawanan kera pun menyahut dan burung pugut mematuk-matuk pohon. Ketujuh anak itu pun kembali melanjutkan pekerjaannya, karena mengira ayah dan ibu mereka masih berada di hutan itu. Kawanan kera dan burung pagut tersebut terus menyahut dan mematuk pohon. Lama-kelamaan mereka pun kesal dan capek. Ketika ketujuh anak itu kembali berteriak memanggil kedua orang tua meraka, kawanan kera dan burung pagut tersebut hanya diam. Pada saat itulah, ketujuh anak tersebut menyadari bahwa kedua orang tua mereka telah pergi meninggalkan mereka. Anak yang sulung pun bingung, karena tidak mengetahui jalan pulang ke rumah.

“Adik-adikku! Apakah di antara kalian ada yang masih ingat jalan untuk pulang ke rumah?” tanya si Sulung.

“Saya, Kak!” sahut si Bungsu dengan sigap.

“Bagaimana mungkin kamu bisa mengingat jalan pulang, Bungsu? Bukankah hutan ini sangat lebat?” tanya si Sulung.

“Tenang, Kak! Adik sudah menandai jalan dari rumah sampai ke hutan ini dengan kemiri. Kita tinggal mengikuti arah kemiri yang bertebaran di jalan yang telah kita lalui,” ujar si Bungsu.

“Wah… kamu memang cerdas, Adikku!” puji si Sulung sambil tersenyum.

Ketujuh anak itu pun menyusuri jalan yang telah ditandai dengan kemiri oleh si Bungsu. Akhirnya, mereka pun sampai di rumah. Ketika masuk ke rumah, mereka mendapati kedua orang tua mereka sedang makan. Tanpa diajak, mereka segera ikut makan, sehingga kedua orang tuanya kembali merasa tidak kenyang. Sang Ayah dan sang Ibu pun bertambah kesal. Kehadiran ketujuh putrinya tersebut benar-benar membuat mereka resah.

Beberapa hari kemudian, pasangan suami-istri itu kembali berencana untuk membuang ketujuh putrinya ke tengah hutan. Namun, rencana mereka kembali diketahui oleh putri bungsunya. Ketika mereka berangkat ke hutan, si Bungsu membawa biji jagung untuk menandai jalan yang mereka lalui. Sesampainya di hutan, seperti biasanya kawanan kera menyahut-nyahut dan burung pagut mematuk-matuk pohon, dan pada saat itulah sang Ayah dan sang Ibu meninggalkan anak-anaknya.

Ketika ketujuh bersaudara itu kembali berteriak memanggil kedua orang tuanya, kawanan kera dan burung pagut tersebut hanya diam. Akhirnya, ketujuh anak itu sadar bahwa orang tua mereka telah meninggalkan mereka. Namun sial bagi ketujuh anak tersebut, mereka tidak mengetahui jalan pulang ke rumah, karena biji jagung yang telah ditebar oleh si Bungsu di jalan habis dimakan burung. Akhirnya mereka pun tersesat di tengah hutan.

Ketujuh anak bersaudara tersebut berjalan mengikuti ke mana arah kaki mereka melangkah. Setelah beberapa lama berjalan, mereka pun sampai di sebuah ladang yang dihuni oleh dua raksasa suami-istri. Saat itu, mereka melihat kedua raksasa itu sedang mandi di sungai yang terletak di pinggir ladang.

“Hai, tampaknya raksasa itu jahat. Mereka pasti akan memangsa kita jika melihat kita ada di sini,” kata si Sulung.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya anak yang kedua.

“Tenang, Kak! Adik punya cara untuk menaklukkan raksasa itu,” sahut si Bungsu.

“Bagaimana caranya, Bungsu?” tanya si Sulung.

‘Adik akan membuat air sungai itu menjadi gatal dengan kolang-kaling, sehingga tubuh kedua raksasa itu akan terasa gatal-gatal. Ketika itu, mereka pasti akan berlari ke gubuknya. Tapi sebelumnya, kalian harus melepas tali gubuk itu dan membuat perapian di bawahnya. Nah, ketika kedua rakasa itu  menaiki gubuk itu, mereka pasti akan jatuh ke dalam api,” jelas si Bungsu.

Setelah mendengar petunjuk si Bungsu, keenam kakaknya itu segera melepas tali gubuk itu dan membuat perapian di bawahnya. Setelah mereka selesai menjalankan tugas, si Bungsu segera mengambil kolang-kaling lalu menggosok-gosokkannya di hulu sungai. Tak berapa lama kemudian, kedua raksasa yang sedang asyik mandi tersebut tiba-tiba merasakan tubuhnya gatal-gatal. Karena tidak tahan menahan rasa gatal, mereka pun berlari menuju ke gubuknya. Tak ayal lagi, ketika menaiki gubuknya, mereka pun terjatuh ke dalam perapian hingga tewas.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Akhirnya, ketujuh anak bersaudara itu pun memutuskan untuk tinggal di daerah itu. Mereka membuat tujuh gubuk dan membagi ladang milik raksasa itu menjadi tujuh bagian. Mereka menanam padi dan bunga-bunga yang harum baunya di ladang masing-masing. Saat tanaman bunga mereka berbunga, ladang mereka kerap didatangi oleh kenui (sejenis burung elang yang berbadan besar). Burung itu ingin membuat sarang dan bertelur di ladang mereka. Dari ketujuh bersaudara tersebut, hanya si Bungsu yang mengizinkan burung itu bersarang di ladang bunganya. Mendapat izin dari si Bungsu, kenui pun segera membuat sarang. Setelah bertelur, burung kenui itu pergi dan tidak pernah kembali lagi.

Pada suatu hari, sepulang dari ladangnya, si Bungsu melihat asap mengepul di dalam gubuknya. Alangkah terkejutnya ia ketika masuk ke dalam gubuknya. Ia melihat seorang pemuda tampan sedang menanak nasi untuknya.

“Maaf, Tuan! Anda siapa dan berasal dari mana?” tanya si Bungsu.

Pemuda itu pun menceritakan asal-usulnya bahwa dirinya keluar dari telur kenui. Akhirnya, mereka pun berkenalan dan saling menyukai. Beberapa bulan kemudian, mereka menikah dan hidup bahagia. Rupanya, pernikahan si Bungsu dengan pemuda itu membuat keenam saudaranya iri dan berniat untuk mencelakai adiknya.

Pada suatu hari, ketika si Bungsu sedang mencuci pakaian di tepi sungai, keenam saudaranya mendorongnya ke sungai. Si Bungsu pun hanyut terbawa arus dan kemudian ditelan oleh seekor ikan besar. Karena kekenyangan, ikan besar itu beristirahat di tepi sungai. Pada saat itu, seorang nenek yang sedang mandi di tepi sungai melihatnya. Tanpa berpikir panjang, sang Nenek pun segera mengambil goloknya dan menghujamkannya ke tubuh ikan itu. Sungguh ajaib, goloknya tidak dapat melukainya. Karena kesal, sang Nenek pun beristirahat di bawah sebuah pohon sambil berpikir mencari cara agar bisa menangkap ikan itu. Saat sedang asyik beristirahat, tiba-tiba ia mendengar seekor burung bernyanyi.

“Bolidang bolidangi pabeli iwa balak,” demikian nyanyian burung itu.

Mulanya, sang Nenek tidak mengerti arti syair lagu yang dinyanyikan burung itu. Setelah menyimak secara seksama, akhirnya ia pun mengerti bahwa untuk memotong ikan itu harus menggunakan daun belidang. Tanpa berpikir panjang, sang Nenek segera mengambil daun belidang yang banyak terdapat di tepi sungai. Dengan daun belidang itu, ia pun berhasil memotong-motong daging ikan itu. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang gadis cantik yang masih hidup keluar dari tubuh ikan itu.

“Hai, Gadis cantik! Kamu siapa dan kenapa bisa berada di perut ikan ini?” tanya nenek itu heran.

Si Bungsu pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga ia bisa berada dalam perut ikan itu. Sang Nenek sangat terharu mendengar cerita si Bungsu. Karena iba, sang Nenek pun menjadikan si Bungsu sebagai anak angkatnya. Sejak itu, si Bungsu tinggal bersama nenek itu.

Sementara itu di tempat lain, suami si Bungsu kebingungan mencari istrinya. Ia sudah menanyai keenam saudara istrinya, namun tak seorang pun yang mau memberitahukan keberadaan istrinya. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi mencari istrinya dengan menyusuri tepi sungai. Setelah berbulan-bulan berjalan, akhirnya ia menemukan sebuah gubuk di tepi sungai. Ia pun menghampiri gubuk itu untuk menanyakan keberadaan istrinya kepada si pemilik gubuk.

“Permisi, apakah ada orang di dalam?” teriak suami si Bungsu dari luar gubuk.

Tak berapa lama kemudian, tampaklah seorang nenek sedang membuka pintu. Setelah pintu terbuka, nenek itu bertanya kepadanya.

“Ada yang bisa Nenek bantu, Anak Muda?” tanya nenek itu.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Suami si Bungsu pun menceritakan tentang pengembaraannya mencari istrinya yang hilang. Si Bungsu yang mendengar cerita itu dari dalam gubuk menitikkan air mata, karena terharu melihat kesetiaan suaminya. Nenek itu kemudian memberitahu kepada laki-laki itu bahwa di dalam gubuknya ada seorang wanita cantik yang ditemukan dari perut ikan besar beberapa bulan yang lalu.

“Anak Muda! Nenek mempunyai seorang wanita cantik di dalam gubuk ini. Cobalah lihat, barangkali dialah istrimu yang kamu cari itu!” ujar nenek itu.

Sang Nenek pun memanggil si Bungsu agar keluar dari gubuk. Alangkah terkejut dan bahagianya laki-laki itu saat melihat wanita yang keluar dari gubuk itu adalah istrinya. Tanpa ragu-ragu, ia pun segera memeluk istrinya, dan si Bungsu pun membalas pelukan suaminya dengan erat. Sesaat, suasana di gubuk itu menjadi hening. Tak terasa, air mata si Nenek pun bercucuran karena terharu melihat anak angkatnya bisa bertemu kembali dengan suaminya. Begitu pula suami si Bungsu, ia sangat bahagia karena telah menemukan kembali istrinya. Sebelum membawa pulang istrinya, suami si Bungsu tidak lupa berterima kasih kepada si Nenek, karena telah menyelamatkan nyawa istrinya.

“Terima kasih, Nek! Nenek telah merawat istriku dengan baik,” ucap suami si Bungsu.

Setelah itu, sepasang suami-istri itu berpamitan kepada si Nenek. Sesampainya mereka di gubuk, keenam kakaknya datang meminta maaf kepada si Bungsu. Si Bungsu memaafkan mereka, karena sejak awal ia tidak pernah merasa dendam, meskipun keenam kakaknya telah mencelakainya. Sejak itu, si Bungsu hidup berbahagia bersama suaminya dan hidup rukun bersama keenam kakaknya.

Cerita yang berbentuk dongeng di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa orang yang suka menolong, akan senantiasa mendapat pertolongan dari Tuhan. Hal ini ditunjukkan oleh perilaku si Bungsu yang telah menolong burung kenui dengan mengizinkannya bersarang dan bertelur di ladang bunganya. Karena sifat penolongnya itu, Tuhan pun memberinya seorang suami yang tampan dan setia. Selain itu, ketika si Bungsu hanyut di sungai dan ditelan oleh ikan besar, pertolongan Tuhan pun datang kepadanya melalui seorang nenek. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

wahai ananda dengarlah manat,
tulus dan ikhlas jadikan azimat
berkorban menolong sesama umat
semoga hidupmu beroleh berkah

Pelajaran lain yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa sifat pemaaf dapat menjaga kerukunan dan menjauhkan munculnya bibit permusuhan antar-sesama. Hal ini tampak pada sikap si Bungsu yang dengan rendah hati dan ikhlas mau memaafkan keenam kakaknya yang telah mengianiayanya. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:

wahai ananda permata intan,
jangan ragu memaafkan orang
sengketa habis dendam dibuang
hati pemurah dikasihi orang

Selamat datang di Masterceme
Hanya 1 user id bisa memainkan 7 jenis permainan.
Minimal Deposit & Withdraw hanya 25.000/50.000
Bonus New Member 20%
Bonus Deposit Harian
Bonus Referal Sebesar 20%
Link : Masterceme{dot}com
WA : +85578968600

 Daftar Sekarang

Wednesday, 11 March 2020

Cerita Rakyat Batu Nong dari Sumbawa

23:35 0 Comments
Masterceme, Cerita Rakyat - Di Desa Lekong, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa terdapat sebuah batu besar, tinggi, bundar bagian atasnya datar. Batu itu menggantung pada tebing bukit yang tinggi dekat sungai Lekong. Dari atas batu itu orang dengan leluasa dapat melihat ke bawah. Itulah sebabnya disebut “batu nong”. Kata “nong” dalam bahasa Sumbawa berarti “melihat ke bawah dari atas”. Jika batu nong itu dilihat dari kejauhan, kedudukannya sangat genting. 

Cerita Rakyat Batu Nong dari Sumbawa

Kalau ada getaran sedikit saja, rasa-rasanya batu itu pasti akan runtuh. Dalam kenyataan, telah beratus-ratus tahun batu itu tetap tidak bergeming. Bagaimana batu itu bisa berada di tempat tersebut, inilah ceritanya.

Tersebutlah sebuah negeri di zaman dahulu kala. Negeri itu terkenal makmur, aman, dan damai. Tidak pernah terdengar perselisihan di antara penduduknya. Laki-laki dan perempuan kedudukannya sama, kecuali dalam satu hal, yaitu laki-laki tabu mencuci pantat anaknya yang habis buang air besar. Hal yang demikian diyakini benar oleh penduduk di situ.

Pada suatu hari terdengar berita, di negeri tetangga akan diadakan keramaian besar. Sudah barang tentu semua orang menyambut dengan gembira berita besar itu.

Tersebutlah sebuah keluarga yang mempunyai anak masih kecil. Sang istri merengek kepada suaminya untuk diizinkan pergi menonton.

“Pak, anak kita sudah besar dan tidak menyusu lagi. Sejak kawin, saya tidak pernah mendapat kesempatan nonton keramaian”.

“Maksudmu kamu ingin pergi nonton?” tanya suaminya.

“Ya,” jawab sang istri.

“Kalau anak kita nanti buang air besar bagaimana lanjut sang suami.

“Saya kan hanya sehari, nanti tunggu saja saya datang,” lanjutnya.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Singkat cerita, karena sang suami sangat sayang kepada sang istri, sang suami mengizinkan sang istri pergi. Ternyata negeri yang dituju cukup jauh. Tidak cukup sehari perjalanan. Sang istri dengan gembira larut dalam keramaian di situ. Ia lupa pada lainnya. Telah tiga hari ia pergi meninggalkan anak dan suaminya. Sementara itu sang suami tidak tahan mencium bau busuk pantat anaknya yang telah buang kotoran. Maka dicucilah pantat anaknya. Pada malam harinya, datanglah kutukan itu. Kulit sang ayah menjadi bersisik. Tangan dan kakinya mengerut, dan akhirnya berubahlah badannya menjadi seekor naga yang berkepala manusia.

sang istri setelah puas menonton keramaian, pulanglah ia bersama teman-teman sekampungnya. Setibanya di rumah, ia terkejut dan menierit karena melihat suaminya telah berubah menjadi seekor naga. Berita itu telah menyebar di seluruh negeri.

Untuk menghindari rasa malu, suaminya berkata, “Istriku, janganlah engkau bersedih. Ini akibat perbuatan saya membasuh pantat anak kita yang habis buang air besar, karena saya sudah tidak tahan mencium bau busuknya. Seharusnya saya mengatakan “tidak” pada saat kamu minta izin, tetapi karena sayangku kepadamu saya bilang “ya”. Jadi, inilah akibatnya. Oleh karena itu, belilah kamu tempayan yang besar, masukkanlah saya ke dalamnya, dan bawalah saya ke sungai,” kata suaminya.

Cerita Rakyat Batu Nong dari Sumbawa

Mendengar kata-kata suaminya itu, sang istri pun menyesal. Namun, apa hendak dikata, nasi telah menjadi bubur. Suaminya kini telah berubah menjadi ular akibat melanggar aturan.

“Selanjutnya antarkan makanan setiap harl untuk saya,” lanjut suaminya. Demikianlah, sejak itu sang istri setiap hari mengantarkan makanan dan minuman kepada suaminya yang telah berubah menjadi ular naga. Hal yang demikian berlangsung bertahun-tahun. Sampai pada suatu hari ketika terjadi peperangan antar negeri. Seluruh desa porak-poranda. Banyak penduduk yang tewas, namun sebagian bisa melarikan diri dan mengungsi. Di antara mereka terdapat istri sang ular. Mereka berlayar dengan perahu tak tentu arah. Perahu berlayar sesuai dengan arah angin. Ketika mereka telah berhari-hari berlayar, pada suatu hari para pengungsi melihat tempayan besar mengikutinya. Ternyata tempayan itu adalah tempayan yang berisi ular. Tempayan itu mengikuti terus ke mana perahu itu pergi. Akhirnya, perahu itu berhenti di suatu tempat di muara sungai Lekong, di Sumbawa bagian barat. Anehnya, tempayan itu pun ikut berlabuh di dekat perahu mereka.

Para pengungsi kemudian membuat pemukiman di darat. Di tempat itu banyak pohon kemiri. Mereka membuat gubug-gubug sederhana sebagai tempat berlindung sementara.

Pada suatu malam, ketika juragan perahu pergi ke sungai ingin buang air besar, ia terkejut karena di tepi sungai itu terdapat sebuah batu besar yang menghalangi aliran air sungai. Setelah diamati ternyata itu adalah tempayan yang berisi ular tadi. Dari dalam tempayan terdengar suara, “Saya tidak cocok di sini, pindahkanlah saya ke tebing di bukit itu.”

Tak lama kemudian, tempayan itu terangkat ke atas dan menempel pada tebing di bukit dekat pemukiman para pengungsi tersebut. Juragan terheran-heran melihat peristiwa tersebut. Ia semakin heran ketika melihat tempayan itu kini telah berubah menjadi sebuah batu yang besar.

Pada pagi harinya, juragan menceritakan pengalamannya yang luar biasa itu. Kemudian para pengungsi itu beramai-ramai naik ke atas bukit dan berdiri di atas batu besar itu. Mereka dapat melihat ke bawah dengan leluasa. Lalu, batu itu dinamakan “batu nong”.

Desa yang mereka bangun diberi nama desa Lekong karena di situ banyak pohon kemiri. Dalam bahasa Sumbawa, buah kemiri yang sudah digoreng sangan untuk bumbu masak dinamakan lekong.

Sampai sekarang, para suami orang Lekong tidak berani mencuci pantat anaknya yang buang air besar. Di samping itu, mereka menganggap batu nong itu keramat. Sampai sekarang pun batu nong masih tetap bertengger di bukit sebelah utara desa Lekong, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa.

Selamat datang di Masterceme
Hanya 1 user id bisa memainkan 7 jenis permainan.
Minimal Deposit & Withdraw hanya 25.000/50.000
Bonus New Member 20%
Bonus Deposit Harian
Bonus Referal Sebesar 20%
Link : Masterceme{dot}com
WA : +85578968600

 Daftar Sekarang

Monday, 9 March 2020

Berapa hal yang perlu Kamu Waspadain Lupa Nya Lebih Seram Dan Angker Dari Kuburan

01:53 0 Comments
Masterceme, Horor - Kebanyakan dari kita udah terlalu terpaku sama yang namanya kuburan = tempat angker.  Nyatanya walaupun serem, masih ada beberapa spot tertentu yang jauh lebih menyeramkan dari kuburan.  Oke, udah siap ya nyari tau? Spot pertama adalah:

1. Rumah

Berapa hal yang perlu Kamu Waspadain Lupa Nya Lebih Seram Dan Angker Dari Kuburan

Rumah? Beneran rumah? Ya rumah kamu sendiri. Bisa menjadi sarang bagi mereka. Terutama rumah kamu yang jarang ada aktivitas peribadatan. atau pernah terjadi tindak kriminal yang menghilangkan nyawa seseorang. Atau bekas tempat orang ‘muja’ alias “pesugihan”!

Termasuk spot-spot di rumah yang jarang terkena sinar matahari, yang lembab, kotor. Kamu mau tahu di mana saja mereka suka nongkrong?

Lokasi-lokasi favorit mereka itu antara lain:

Di bawah tangga, atau ruang sudut antar tangga
Di bawah ranjang.  Mainstream, tapi pasti bikin kamu ketakutan setengah mati kalau dengar suara-suara aneh
Di ruang antara atas lemari dan langit-langit
Dapur
Dek rumah, ruang kosong antara asbes langit-lagit dan atap.

Ruang mana pun yang jarang ada aktivitas manusia. Terutama yang berntakan seperti gudang.
Sudut jalan buntu, atau pojokan. Termasuk belakang pintu
Pohon rindang, atau kebun tak terurus. Bagian dalam dahan lebat yang lembab. Itu spot favorit mereka.
Sofa juga kursi yang jarang di duduki. Bisa di ruang tamu atau teras.
Kamar mandi, apalagi WC

Kasur yang jarang ditiduri. Kasur yang bakal ditinggal lebih dari 2 hari. Sebaiknya dimiringkan ke dinding, atau digulung.
Foto-foto makhluk yang bernyawa, termasuk lukisan. Yang berada dalam kondisi statis dalam waktu yang lama. Serta pantung makhluk yang bernyawa. Karena benda-benda terbukti secara sainstifik mengandung energi yang menarik makhluk dari dimensi lain. Hingga seolah menjadi magnet tersendiri.
Bisa juga di rumahmu ada jalan perlintasan mereka. Spot-spot di atas dalam banyak pengalaman nyata terbukti terekam aktivitas perhantuan. Kerap terjadi penampakan-penampakan.

2. Rumah sakit

Rumah sakit

Rumah sakit lebih angker karena banyak nyawa dicabut di tempat ini. Sudah bukan rahasia jika jaga shift malam di RS, harus siap mental. Ya Satpam, Dokter, Perawat, Ko-Ass.

 Daftar Sekarang

3. Sekolah dan Kampus

Sekolah dan Kampus

Sekolah dan Kampus. Selalu menyimpan misteri penampakan. Dan potensi gangguan yang tak kalah mengerikan. Berhati-hatilah pada bangku-bangku di pojok belakang!

Bagian yang paling angker dari sekolah atau kampus setlah toiletnya. Adalah lab. Lab komputer misalnya.
Banyak juga cerita. Mahasiswa diajari dosen yang sama namun ‘beda’. Dosen yang asli ternyata berhalangan. Ngeri juga!

Apalagi temanmu yang aslinya di kosan. Tapi duduk nunduk diam aja di belakang. Lalu kamu tahu itu makhluk lain. Pernah denger horor “Orang Sebelah”, atau anak kedokteran yang dapat bocaran 49 soal UAS oleh cadaver (mayat yang dijadikan objek bedah mayat!). Ada juga legenda mahasiswi bernama “Putri”, dan banyak lagi lah. Semuanya itu merupakan kisah nyata! Gilaa itu HOROR asli. Kamu bisa cari kisahnya bertebaran di internet.

4. Gedung Perkantoran

Gedung Perkantoran

Saya sarankan, jangan berada di gedung perkantoran lebih dari pukul 5 sore. Terlebih sendiri. Bilik-bilik kubikel, apalagi toilet. Memilki penghuni yang lebih banyak dari yang kamu kira.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

5. Lift & Lorong

Lift & Lorong

Terbayang sebenarnya, jalur lift yang gelap dan pengap, tanpa sirkulasi udara. Bisa menjadi rumah yang nyaman bagi mereka.  Lorong tempat lalu lalang yang remang-remang juga jadi spot favorit mereka buat nebeng.

6. Asrama

Asrama

Terutama dengan sejarah gedung yang kuno. Kamar-kamar yang sudah lama terisi. Terutama kamar-kamar paling ujung, adalah arena bermain mereka.

7. Diskotek dan Tempat Maksiat

Diskotek dan Tempat Maksiat

Tahukah kamu, setan-setan juga asyik berjoget bersama manusia dalam kelap-kelip dunia malam. Cuma mereka enggan menunjukkan diri. Supaya manusia semakin terperosok ke dalam jurang dosa.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

8. Restoran

 Restoran

Agak kaget ya? Saya punya teman yang Adek ceweknya punya mata yang tajam (padahal pakai kaca mata). Di sebuah warung soto (kalo gak salah) di kampungnya, dia orang Kalimantan saya lupa nama kotanya, kemungkinan besar Pontianak.

Nah, Adeknya teman saya ini, tiba-tiba buru-buru mengajak rombongan teman-temannya ke luar warung soto tersebut, padahal sudah terlanjur pesan. Sang Kakak yang kebingungan bertanya-tanya ada apa?

Adeknya menjelaskan. Ia melihat seorang cewek berpakaian putih lusuh dengan rambut panjang sampai pantat. MELUDAHI makanan yang disajikan dekat pintu dapur!
Itu yang dinamakan “Penglaris”. Apalagi di pulau Jawa (maaf), yang getol sekali menggunakan jalan pintas ini. Saya yakin tidak semua kok.

Bagi yang Muslim. Jangan lupa mengucapkan basmalah dimana pun kamu makan. Salah satu ciri sebuah tempat memakai penglaris adalah makanan yang dibungkus untuk dibawa pulang. Setelah agak lama, sudah tak selezat jika dimakan di tempat jualannya. Meski sudah dipanaskan. Atau makanannya cepat basi!

9. Moda Transportasi umum dan  kendaraan pribadi

Moda Transportasi umum dan  kendaraan pribadi

Terutama bus dan kereta api. Kejadian di pesawat masih jarang saya dengar. Bukan berarti tidak ada ya. Bagaimana jika kamu merasa diikuti mereka? Kadang kala kamu merasa diikuti. Dengan perasaan tidak enak. Merasa diawasi, bulu kuduk merinding. Bahkan sampai penampakan.

Pasti udah pernah denger mahasiswa yang gak sengaja naik kereta hantu, dan turunnya di stasiun Depok lama. Koran yang ia pinjam dari bapak-bapak di sebelahnya, ternyata koran tahun 1950-an!

Dalam kasus dengan mobil atau motor misal. Bisa jauh lebih menyeramkan. Kalau mereka ikut gelayut di kendaraanmu.

Yang bisa saya sarankan jika kalian merasa diikuti. Setelah berkunjung ke suatu tempat yang wingit. Habis hiking misalnya. Atau ke kuburan. Buka baju dan alas kaki di depan pintu. Berbalik. Masuk ke rumah sambil membelakangi pintu. Tutup pintu sambil membaca doa.

Apa pun yang kamu pakai malam itu. Segera lepaskan dan JANGAN BAWA MASUK KAMAR. Sampai ke celana dalam pun, pisahkan dari pakaian lain yang tak berdosa.

Mandi dan bersuci sebelum tidur. Keesokan harinya segera cuci semua baju, sepatu yang dipakai dalam perjalanan. Coba analisa barang-barang yang kamu bawa. Mungkin mereka ikut disitu. Benda tersebut harus dicuci dengan air bersih yang sudah dibacakan doa-doa.

Sebenarnya, dimana pun kita berada mereka ada. Namun pergesakan energi, dan benturan dimensi bisa terjadi. Karena manusia pun punya RUH. Yang nota bene zat yang halus pula. Mereka yang halus, punya berat massa jenis zat yang jauh lebih ringan dari jasad kasat manusia. Hal ini ditinjau dari ilmu fisika. Untuk bisa melihat mereka pun butuh frekuensi gelombang otak tertentu.

Bagi saya semuanya masuk akal. Karena saya meyakini bangsa jin memang berkeliaran di sekitar kita. Hanya ilmu pengetahuan dan teknologi manusia belum bisa menjangkau jauh ke dalam pemahana terhadap alam lain yang penuh misteri tersebut. Deket-deket aja ama Tuhan. Berani namun tetap sopan. Tetap berhati-hati. Insya Allah kita semua akan baik-baik aja.

 Daftar Sekarang

Follow Us @soratemplates