Infomasi Penting : SITUS REKOMENDASI DARI KAMI SAAT INI ADALAH JPOKER99.COM dan JBANDAR.COM, MIN DEPO RENDAH WINRATE MANTAP, SILAKAN DI GAS BOSKU

Monday, 13 April 2020

Legenda Asal Mula Nya Orang Basap

15:27 0 Comments
Masterceme, Legenda - Orang Basap adalah salah satu rumpun suku Dayak di Kalimantan Timur yang tinggal di wilayah Bontang dan Sangkulirang. Menurut cerita, Orang Basap merupakan keturunan orang-orang Cina yang kawin dengan suku Dayak Punan. Meskipun Orang Basap pada umumnya tidak berkulit kuning, tetapi mata mereka tetap sipit seperti orang Cina. Bagaimanaperkawinan campuran antara dua suku yang berbeda ini bisa terjadi? 

Legenda Asal Mula Nya Orang Basap

Dahulu, di Tepian Batu atau Kutai Lama, Kalimantan Timur, berdiri sebuah kerajaan bernama Kerajaan Kutai Kartanegara. Kerajaan itu didirikan oleh Maharaja Aji Batara Agung Dewa Sakti yang memerintah dari tahun 1300-1325 Masehi. Konon, sang Maharaja gemar bermain sabung ayam. Ia mempunyai seekor ayam jantan yang sakti bernama Ujung Perak Kemudi Besi. Ayam itu selalu menang dalam setiap pertarungan. Namanya pun sudah terkenal hingga ke luar negeri karena ayam jago itu telah mengalahkan ayam jago milik raja-raja dari Jawa, Brunei, dan lainnya.

Kabar tentang kesaktian Ujung Perak Kemudi Besi tersebar hingga ke Negeri Cina. Mendengar kabar tersebut, Pangeran Cina pun bermaksud untuk menjajal kesaktian ayam jago milik sang Maharaja itu. Dengan diiringi ratusan awak kapal dan pasukan, pangeran itu bertolak menuju Kutai dengan menggunakan sebuah kapal besar. Sang Pangeran juga membawa 15 ekor ayam jago miliknya yang paling unggul.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Dalam perjalanan menuju Kutai, rombongan Pangeran Cina mampir mengunjungi beberapa negeri seperti Campa, Brunei, Sumatra, dan Jawa. Di setiap negeri yang disinggahinya, sang Pangeran selalu menyempatkan diri mengadu salah satu ayam jagonya, dan ayam itu selalu menang.

“Ayam jagoku pasti akan mampu mengalahkan ayam jago milik Raja Kutai,” sang Pangeran Cina percaya diri.

Beberapa hari kemudian, rombongan Pangeran Cina akhirnya tiba di Kutai. Sang Pangeran pun langsung menghadap Maharaja Aji Batara Agung Dewa Sakti dan mengutarakan maksud kedatangannya.

“Hamba datang dari negeri Cina. Hamba menghadap ke mari untuk mengadu ayam jago hamba dengan ayam jago milik Baginda yang terkenal sakti itu,” kata Pangeran Cina.

“Wah, Pangeran jauh-jauh dari Cina hanya untuk mengadu ayam?” tanya Maharaja Kutai dengan santai.

“Benar, Baginda. Hamba membawa 15 ayam jago hamba untuk diadu dengan ayam jago Baginda,” jawab sang Pangeran.

Maharaja Kutai Kartanegara terdiam sejenak sambil mengelus-elus jenggotnya. Semula ia ragu karena Pangeran Cina itu membawa 15 ayam jago. Tentu saja ayam jagonya akan kewalahan menghadapi semua ayam jago tersebut. Namun karena yakin dengan kesaktian Ujung Perak Kemudi Besi, ia pun menerima tantangan Pangeran Cina itu.

“Baiklah, Pangeran. Aku terima tantanganmu. Lalu, bagaimana dengan aturan dan taruhannya?” tanya Maharaja Kutai.

“Maaf, Baginda. Ayam jago hamba akan diadu dengan ayam jago Baginda setiap hari. Taruhan setiap ekor ayam hamba adalah 100 bungkal emas sebesar lutut dan sebutir berlian sebesar telur merpati,” jawab Pangeran Cina.

 Daftar Sekarang

“Baiklah, aku setuju dengan tawaran itu. Pertarungan ini akan kita mulai besok,” ujar Maharaja Kutai Kartanegara.

Maharaja Kutai Kartanegara segera memerintahkan para prajuritnya untuk menyiapkan gelanggang sabung ayam di depan istana. Keesokan harinya, banyak rakyat Kutai dan yang datang untuk menyaksikan jalannya pertarungan itu. Para prajurit istana pun tidak mau ketinggalan ingin menonton acara yang bakal berlangsung seru itu. Maharaja Kutai sudah terlihat duduk di singgasananya dengan didampingi oleh permaisuri tercinta. Sementara itu, di sisi lain gelanggang, Pangeran Cina dengan para pengawalnya juga sudah bersiap-siap.

Setelah semua persiapan selesai, gong pun dibunyikan pertanda dimulainya pertandingan. Kedua belah pihak segera melepaskan ayam jago masing-masing ke arena. Kedua ayam jago itu pun berkokok bersahut-sahutan seraya mengambil ancang-ancang untuk saling menyerang. Suasana penonton yang semula riuh rendah tiba-tiba menjadi hening.

Sesaat kemudian, kedua ayam jago itu mulai bertarung. Ayam jago Pangeran Cina mulai menyerang dengan beringas. Namun, dengan gesit, ayam jago Maharaja Kutai berkelit menghindari serangan. Ayam jago Pangeran Cina terus menyerang bertubi-tubi. Ujung Perak Kemudi Besi milik Maharaja Kutai pun selalu bisa menghindar. Lama-kelamaan, ayam jago Pangeran Cina kehabisan tenaga. Kesempatan itu tidak disiakan-siakan oleh ayam jago Maharaja Kutai. Dengan sekali serang, ayam jago Pangeran Cina pun tewas terkena taji. Sorak-sorai penonton pun kembali bergumuruh.

“Hidup Ujung Perak Kemudi Besi! Hidup Maharaja Kutai!” demikian teriakan penonton memberi semangat.

Ayam jago Pangeran Cina yang pertama telah tewas. Pertarungan akan dilanjutkan pada esok harinya di mana Ujung Perak Besi akan menghadapi ayam jago yang kedua milik Pangeran Cina. Pertarungan pada hari kedua itu juga dimenangkan oleh ayam jago Raja Kutai. Demikian seterusnya hingga hari ke-14. Ayam jago milik Pangeran Cina pun tinggal satu yang tersisa. Selain itu, sang Pangeran juga telah kehabisan taruhan. Kini, Maharaja Kutai yang berbalik menantang pangeran dari Cina itu.

“Bagaimana Pangeran, apakah pertarungan ini akan kita lanjutkan?” tanya Maharaja Kutai.

“Iya, Baginda. Hamba akan mempertaruhkan kapal hamba dan seluruh isinya. Tapi, hamba minta Baginda juga mau mempertaruhkan kerajaan Baginda beserta isinya,” pinta Pangeran Cina.

Mendengar permintaan itu, Raja Kutai terhenyak. Rakyat pun ikut tercengang dan cemas. Maharaja Kutai masih diam. Pikirannya diselimuti perasaan bimbang. Baginya, taruhan itu terlalu besar. Tapi, jika tidak menerima tawaran itu, ia akan merasa malu. Di tengah-tengah kebimbangannya, tiba-tiba Ujung Perak Kemudi Besi berkokok dengan suara nyaring sambil mengepak-epakan kedua sayapnya. Hal itu seolah-olah memberi isyarat kepada tuannya agar menerima tawaran itu. Raja Kutai pun memahami keinginan ayam jagoannya.

“Baiklah, Pangeran. Aku terima tawaranmu,” jawab Raja Kutai dengan penuh keyakinan, “Tapi, ingat! Pangeran jangan mengingkari janji. Jika salah satu dari kita mengingkari janji, ia akan mendapat hukuman dari Sang Hyang Dewata.”

Pangeran Cina menyetujui perjanjian itu. Akhirnya, pertarungan itu pun dimulai. Ayam jago kedua belah pihak segera dilepaskan ke arena. Pertarungan kali ini semakin sengit karena ayam jago yang akan dihadapi Ujung Perak Kemudi Besi merupakan ayam paling tangguh milik Pangeran Cina. Seluruh penduduk Kutai pun semakin cemas.

Saat pertarungan dimulai, kedua ayam jago tersebut silih berganti menyerang. Pertarungan itu sudah berlangsung beberapa waktu, namun belum dapat dipastikan jago mana yang akan menang. Kesaktian keduanya masih tampak seimbang. Begitu matahari mulai tenggelam, ayam jago Pangeran Cina sudah kelelahan. Sebaliknya, ayam si Ujung Perak justru semakin tangkas. Sepakannya semakin kuat dan patukannya pun bertambah kuat. Tidak berapa kemudian, ayam jago Pangeran Cina pun tewas. Melihat hal itu, seluruh rakyat Kutai bersorak gembira meryakan kemenangan Ujung Perak Kemudi Besi.

Maharaja Kutai segera memerintahkan para prajuritnya untuk mengambil semua layar dan dayung yang ada di kapal agar Pangeran Cina dan pasukannya tidak melarikan diri. Namun, Maharaja Kutai masih berbelas kasihan

“Khusus malam ini, aku izinkan Pangeran dan seluruh prajurit Pangeran tidur di kapal itu,” ujar Raja Kutai.

“Terima kasih, Baginda,” jawab Pangeran Cina.

Pangeran Cina dan rombongannya pun kembali kapal yang sudah menjadi milik Raja Kutai. Ketika hari sudah larut, lampu-lampu di kapal itu dimatikan. Pangeran Cina dan anak buahnya bukannya beristirahat, melainkan mengadakan rapat secara diam-diam. Rupanya, mereka sedang merencanakan sisat untuk bisa melarikan diri.

“Bagaimana caranya kita melarikan diri, Pangeran? Bukankah layar dan dayung kita sudah dirampas oleh Raja Kutai?” tanya salah seorang prajurit dengan bingung.

Sejenak, Pangeran Cina terdiam. Ia pun kebingunan mencari jalan keluar. Di tengah kebimbangan itu, tiba-tiba juru masak angkat bicara.

“Maaf, Pangeran. Bolehkah hamba usul?” pinta juru masak itu.

“Apakah itu? Cepat katakan!” desak sang Pangeran.

“Bukankah kita masih mempunyai layar yang sudah robek di gudang? Bagaimana kalau layar itu kita jahit saja?” usul juru masak.

Sang Pangeran pun langsung menerima usulan itu. Ia kemudian memerintahkan para prajuritnya untuk menjahit layar itu di sebuah bukit. Ia juga memerintahkan prajuritnya untuk membuat sejumlah dayung di bukit tersebut. Keesokan harinya, mereka pun selesai menjahit bagian layar yang robek. Konon, bukit itu kemudian dinamakan Gunung jahitan Layar. Demikian pula dayung yang mereka buat juga sudah selesai.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Pada malam harinya, Pangeran Cina pun bertolak meninggalkan pelabuhan Kutai dengan kapal itu. Prajurit Maharaja Kutai yang mengetahui hal itu segera melapor.

“Ampun, Baginda. Pangeran Cina mengkhianati kita. Ia bersama pasukannya membawa dengan kapal,” lapor salah seorang prajurit, “Kita harus segera mengejarnya sebelum mereka pergi jauh.”

“Kalian tidak perlu mengejarnya. Pangeran itu telah mengingkari janjinya. Lihat saja nanti, mereka akan mendapat musibah di tengah laut,” ujar Maharaja Kutai.

Usai berkata demikian, Raja Kutai Kartanegara kemudian berucap sumpah.

“Keringlah laut yang mengelilingi wangkang! Biarlah seumur rombongan Pangeran Cina berada di tempat itu!”

Sementara itu, rombongan Pangeran Cina telah memasuki Teluk Sankulirang. Tanpa diduga, tiba-tiba angin puting beliung datang mendekat ke arah kapal yang mereka tumpangi. Air laut yang ada di sekitarnya pun tersedot ke atas. Pangeran Cina dan prajuritnya pun mulai panik. Mereka segera menurungkan jangkar agar tidak ikut tersedot oleh pusaran angin puting beliung. Hingga saat ini, tempat anak buah Pangeran Cina menurungkan jangkar itu diberi nama Kampung Jangkar.

Angin puting beliung terus menyedot air laut hingga laut menjadi kering. Rombongan Pangeran Cina pun segera turun dari kapal. Selang beberapa saat kemudian, kapal itu tiba-tiba berubah menjadi batu.

Menurut cerita, Pangeran Cina dan prajuritnya tinggal di sekitar tempat itu. Mereka kemudian berbaur dengan penduduk setempat, yakni orang-orang suku Dayak Punan hingga terjadi perkawinan. Keturunan orang-orang Cina dan suku Dayak Punan itu kemudian dikenal sebagai Orang Basap.

Selamat datang di Masterceme
Hanya 1 user id bisa memainkan 7 jenis permainan.
Minimal Deposit & Withdraw hanya 25.000/50.000
Bonus New Member 20%
Bonus Deposit Harian
Bonus Referal Sebesar 20%
Link : Masterceme{dot}com
WA : +85578968600

 Daftar Sekarang

Saturday, 11 April 2020

Kisah Indara Pitaraa dan Siraapare Si Nakal

15:07 0 Comments
Masterceme, Cerita Rakyat - Dahulu, di sebuah kampung di Sulawesi Tenggara, hiduplah sepasang suami istri. Saat itu, sang istri sedang hamil tua. Semakin mendekati masa kelahiran, ia sering mengalami kesakitan seperti ada benda tajam yang menusuk-nusuk perutnya dari dalam. Melihat keadaan tersebut, sang suami pun hanya bisa pasrah dan berdoa semoga istri yang amat dicintainya itu dapat melahirkan dengan selamat.

Kisah Indara Pitaraa dan Siraapare Si Nakal

Akhirnya, sang istri pun melahirkan anak lelaki kembar. Ajaibnya, kedua anak itu lahir bersama dengan sebuah keris pusaka di tangan kanan masing-masing. Pasangan suami istri pun baru menyadari bahwa ternyata kedua keris itulah yang kerap menusuk-nusuk perut sang istri. Mereka kemudian memberi nama kedua anak kembarnya itu Indara Pitaraa dan Siraapare dan merawatnya dengan penuh kasih sayang.

Sepuluh tahun kemudian, Indara Pitaraa dan Siraapare telah tumbuh menjadi remaja. Namun sayangnya, mereka menjadi anak yang nakal. Keris pusaka itu menjadi sumber kenakalan mereka. Mereka kerap menggunakan keris tersebut untuk merusak tanaman. Bahkan, tak jarang keris itu digunakan untuk membunuh hewan ternak penduduk. Perilaku Indara Pitaraa dan Siraapare benar-benar telah meresahkan masyarakat. Kedua orangtua mereka pun pusing memikirkan perilaku si kembar.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Suatu malam, ketika Indara Pitaraa dan Siraapare sedang terlelap, kedua orangtuanya tampak sedang berbincang mengenai anak mereka.

“Pak, aku sudah tidak tahan lagi melihat perilaku anak-anak kita. Kalau begini terus keadaannya, aku khawatir warga akan membenci kita,” keluh sang istri.

“Benar juga katamu, Bu. Tapi, apa yang harus kita lakukan untuk menghentikan kenakalan mereka?” tanya sang suami bingung.

Sang istri termenung sejenak. Ia tampaknya berpikir keras untuk mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut. Selang beberapa saat kemudian, sang istri lalu berkata kepada suaminya.

“Pak, bagaimana kalau mereka kita suruh saja merantau?” saran sang istri.

“Wah, usul yang bagus, Bu. Aku rasa mereka pasti setuju,” jawab suaminya.

Ketika mereka menyampaikan hal tersebut pada esok harinya, Indara Pitaraa dan Sirapaare pun menyambutnya dengan riang gembira. Mendengar persetujuan kedua anak kembarnya, sang ibu segera menyiapkan bekal berupa 7 buah ketupat, 7 butir telur rebus, 7 ruas tebu sebagai pengganti air minum, dan 2 belah kelapa tua. Sang ibu juga membekali mereka tempurung kelapa sebagai penutup kepala.

“Wahai, anak-anakku. Bawalah semua barang-barang ini untuk bekal kalian selama di perjalanan,” ujar sang ibu.

Sebelum kedua anak yang amat disayanginya itu berangkat, sang Ayah berpesan kepada mereka.

“Dengarlah, anak-anakku. Kalian adalah bersaudara kandung. Untuk itu, Ayah minta kalian harus selalu rukun dan saling membantu jika salah satu di antara kalian mendapat musibah,” ujar sang ayah, “Ingat, kalian juga harus selalu berjalan bersama, jangan sampai berpisah!”

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

“Baik, Ayah,” jawab si kembar serentak.

Setelah berpamitan pada orangtua mereka, Indara Pitaraa dan Sirapare pun pergi. Mereka berjalan menyusuri hutan lebat, mendaki gunung, dan menuruni lembah tanpa arah dan tujuan. Mereka terlihat sangat rukun. Ketika istirahat dan makan, mereka selalu bersama-sama.

Suatu hari, Indara Pitaraa dan Siraapare sedang mendaki sebuah gunung. Gunung itu merupakan gunung ketujuh yang akan mereka daki. Setiba di puncak, mereka kemudian berhenti untuk melepaskan lelah. Dengan bekal yang masih tersisa, mereka pun makan bersama. Setelah itu, mereka beristirahat. Ketika mereka sedang terlelap, tiba-tiba datang angin topan yang sangat kencang. Siraapare yang terbangun lebih dulu segera membangunkan kakaknya.

“Kakak, cepat bangun!” serunya, “Ada angin topan datang.”

Indara Pitaraa seketika terbangun.

“Ayo cepat kita ikatkan tali pinggang agar kita berpisah bila diterbangkan angin!” seru Indara Pitaraa .

Indara Pitaraa dan Siraapare pun segera mengikatkan tali pinggang mereka. Namun, angin topan yang amat dahsyat tiba-tiba datang menerpa mereka. Tak ayal, keduanya pun terbang melayang-layang di udara. Semakin lama, mereka semakin jauh naik ke angkasa. Tanpa disadari, tali pinggang mereka terlepas sehingga keduanya pun berpisah.

“Siraapare, adikku..!” teriak Indara Pitaraa , “Jangan dirimu baik-baik!”

“Iya, Kak,” jawab Siraapare yang suaranya tidak terlalu terdengar lagi oleh Indara Pitaraa .

Anak kembar itu akhirnya terjatuh ke bumi di tempat yang berbeda. Indara Pitaraa terjatuh di sebuah negeri yang sedang terancam amukan ular raksasa. Sementara Siraapare terjatuh di negeri yang sedang dilanda perang. Siraapare terpaksa ikut berperang untuk membela negeri tersebut. Bahkan, Dengan keris pusaka sebagai senjata dan tempurung kelapa sebagai perisai, ia berhasil memukul mundur pasukan musuh. Akhirnya, Siraapare dinobatkan menjadi raja di negeri tersebut.

Sementara itu, Indara Pitaraa amat terkejut karena negeri yang ia temui sangat sepi. Tak seorang pun orang terlihat keluar rumah. Ketika memasuki sebuah rumah, ia mendengar suara gemerisik dari balik sebuah gendang besar.

“Sepertinya ada orang di balik gendang itu,” gumamnya.

Indara Pitaraa kemudian melangkah perlahan-lahan mendekati gendang itu. Begitu mendekat, ia langsung menepak (memukul) gendang itu. Orang yang ada di baliknya pun tersentak kaget.’

“Hai, jangan pukul gendang itu!” seru suara itu, “Aku ada di baliknya.”

Alangkah terkejutnya Indara Pitaraa ketika orang yang keluar dari balik gendang itu adalah seorang gadis cantik.

“Hai, siapa kamu?” tanya Indara Pitaraa .

“Maaf, Tuan Muda. Aku putri Raja negeri ini,” jawabnya.

“Oh, ampun Tuan Putri,” ucap Indara Pitaraa seraya memberi hormat, “Maaf, Tuan Putri. Kalau boleh hamba tahu, apa gerangan yang terjadi di negeri ini? Lalu, kenapa Tuan Putri bersembunyi di balik gendang ini?”

“Negeri ini sedang diteror oleh seekor ular raksasa. Ular raksasa meminta kepada warga agar aku dijadikan sebagai persembahan. Jika tidak, dia akan marah dan menyerang negeri ini,” ungkap sang Putri dengan sedih.

“Baiklah, kalau begitu. Tuan Putri tidak perlu takut, hamba akan menghabisi ular raksasa itu,” ujar Indara Pitaraa .

Tak berapa lama kemudian, ular raksasa itu datang. Ia amat marah karena sang Putri yang dijanjikan tidak datang ke tempatnya.

“Karena permintaanku tidak dipenuhi, seluruh penduduk negeri ini akan kubinasakan,” ancam ular raksasa itu.

Mendengar suara ular itu, Indara Pitaraa dengan gagahnya segera keluar. Tangan kanannya menggenggam keris pusaka, sedangkan tangan kirinya memegang perisai tumpurung kelapa.

“Hai, ular biadab! Jika berani, lawan aku!” tantang Indara Pitaraa .

“Ha… Ha… Ha…!” ular itu tertawa terbahak-bahak, “Hai, anak ingusan! Dengan apa kamu berani melawanku?”

“Lihatlah, keris pusaka di tanganku ini!” seru Indara Pitaraa , “Keris ini akan mengoyak-oyak seluruh isi perutmu. Ayo, majulah kalau berani!”

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Merasa diremehkan, ular raksasa itu langsung menyerang Indara Pitaraa dengan kibasan ekornya. Indara yang sebelumnya sudah bersiap-siap, dapat dengan mudah menghindar. Uar itu pun kembali melancarkan serangan bertubi-tubi hingga berhasil memanggut dan menelan tubuh Indara Pitaraa . Sementara itu, Indara Pitaraa yang berada di dalam perut ular itu, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menebaskan kerisnya dan mencabik-cabik isi perut ular itu. Ular yang ganas itu akhirnya tewas. Indara Pitaraa pun segera keluar dari dalam perutnya ular itu.

Keberhasilan Indara Pitaraa membunuh ular raksasa yang ganas itu disambut meriah oleh penduduk negeri. Ia pun menikahi putri Raja dan beberapa tahun kemudian ia dinobatkan menjadi raja. Indara Pitaraa memerintah negeri itu dengan arif dan bijaksana.

Suatu ketika, tanpa disangka-sangka, Raja Indara Pitaraa bertemu dengan adiknya Siraapare yang juga telah menjadi raja di negeri lain. Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke kampung halaman untuk menemui orangtua mereka. Mereka pulang dengan membawa istri masing-masing dan disertai oleh sejumlah pengawal. Setiba di kampung halaman, mereka pun mengadakan pesta selama tujuh hari tujuh malam dengan mengundang seluruh warga kampung. Pada kesempatan itulah, Indara Pitaraa dan Sirapaare meminta maaf kepada seluruh warga atas kenakalan mereka di masa kecil. Tidak hanya itu, mereka juga mengganti seluruh kerugian, baik hewan ternak maupun tanaman yang dulu pernah mereka rusak.

Selamat datang di Masterceme
Hanya 1 user id bisa memainkan 7 jenis permainan.
Minimal Deposit & Withdraw hanya 25.000/50.000
Bonus New Member 20%
Bonus Deposit Harian
Bonus Referal Sebesar 20%
Link : Masterceme{dot}com
WA : +85578968600

 Daftar Sekarang

Thursday, 9 April 2020

Legenda Sejarah Asal Usul Nama Kota Makasar

16:18 0 Comments
Masterceme, Legenda - Banyak orang salah kaprah menilai arti nama Makassar berasal dari kata ‘kasar’. Padahal, sejarah penamaan Ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan ini, sangat bernuansa islami, yakni ditandai dengan mimpi Raja Tallo ke VI di abad ke 16.

Legenda Sejarah Asal Usul Nama Kota Makasar

Nama Makassar sudah disebutkan dalam pupuh 14/3 kitab Nagarakretagama karya Mpu Prapanca pada abad ke-14, sebagai salah satu daerah taklukkan Majapahit. Walaupun demikian, Raja Gowa ke-9 Tumaparisi Kallonna (1510-1546) diperkirakan adalah tokoh pertama yang benar-benar mengembangkan kota Makassar. Ia memindahkan pusat kerajaan dari pedalaman ke tepi pantai, mendirikan benteng di muara Sungai Jeneberang, serta mengangkat seorang syahbandar untuk mengatur perdagangan.

Pada abad ke-16, Makassar menjadi pusat perdagangan yang dominan di Indonesia Timur, sekaligus menjadi salah satu kota terbesar di Asia Tenggara. Raja-raja Makassar menerapkan kebijakan perdagangan bebas yang ketat, di mana seluruh pengunjung ke Makassar berhak melakukan perniagaan disana dan menolak upaya VOC (Belanda) untuk memperoleh hak monopoli di kota tersebut. Masjid di Makassar (1910-1934).

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Dalam catatan sejarah kerajaan Gowa-Tallo, diceritakan Raja Tallo ke-VI Mangkubumi Kerajaan Gowa, I Mallingkaang Daeng Mannyonri Karaeng Katangka, bermimpi melihat cahaya bersinar dari Tallo ke segala penjuru kerajaan dan negeri sekitarnya. Mimpi itu ia bawa selama tiga hari berturut-turut.

Dalam buku ‘Peristiwa Tahun-tahun Bersejarah Sulawesi Selatan dari Abad ke XIV s/d XIX’ karya Darwa rasyid MS. Tepat di malam Jum’at, 9 Jumadil Awal 1014 H atau 22 September 1605 M, di malam ketiga mimpi raja, sebuah perahu kecil berlabuh di pantai Tallo.

Warga keheranan melihat sesosok pria jubah putih di atas perahu tersebut. Pria itu lalu menambatkan perahunya lalu melakukan gerakan-gerakan yang asing dipandang warga. (Belakangan raja mengetahui itu merupakan gerakan sholat).

Di malam yang gelap gulita, tubuh pria itu memancarkan cahaya menyilau ke segala penjuru arah. Hal itu membuat warga gempar dan menyampaikan ke raja Tallo tentang sosok pria misterius tersebut, saat besok paginya.

Mendengar hal itu, Raja pun bergegas ke bibir panti Tallo. Belum sempat keluar istana, sosok pria itu tiba-tiba muncul di hadapan raja, tepat di depan gerbang. Raja pun sontak kaget dan melihat wajah pria itu sangat teduh, tubuhnya memancarkan kilau cahaya.

Menurut peneliti Balai Litbang Agama Makassar, Syamsurijal Adhan, pria yang masih misterius itu menjabat tangan raja yang masih kaku melihat sosoknya. Usai berjabat tangan, tangan raja Tallo tiba-tiba bertuliskan bahasa Arab yang ia tak tahu artinya.

“Orang tua itu lalu meminta agar tulisan tersebut diperlihatkan pada lelaki yang sebentar lagi akan merapat di pantai,” kata Syamsurijal Adhan, saat ditemui Okezone di kantornya, jalan AP Pettarani, Makassar.

Belum sempat berkata-kata, pria itu menghilang seketika. Raja pun bergegas ke pantai Tallo, mengikuti arahannya. Dan benar, seorang pria baru saja berlabuh di pantai. Raja pun langsung mendatangi tamu barunya, pria itu bernama Datuk Ri Bandang, ulama penyebar Islam asal Koto Tengah, Minangkabau (Saat ini berada di Sumatera Barat)

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Raja Tallo lalu memperlihatkan tulisan Arab yang tertulis di telapak tangannya. Datuk pun menjawab tulisan itu merupakan dua kalimat syahadat. Raja pun menjadi takjub

Kedatangan Datuk memang untuk mengajak raja Tallo agar menerima ajaran Islam. Pertemuan kedua tokoh ini pun menjadi cikal bakal penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan. Raja Tallo menerima ajaran Islam dan berganti nama menjadi Sultan Abdullah Awaluddin Awawul Islam Karaeng Tallo Tumenanga ri Agamana. Agama Islam pun menjadi agama resmi di kerajaan.

“Kisah inilah yang menjadi awal mula nama Makassar. Diambil dari bahasa Makassar ‘Akkasaraki’ atau Menampakkan Diri. Hal itu berdasarkan pengalaman munculnya sosok bercahaya dari pantai,” ujar Syamsurijal.

Pengalaman ‘penampakan’ cahaya putih itulah yang disebut ‘Akkasaraki’. Kisah ini membekas kendati menjadi awal penerimaan Islam di masyarakat kerajaan kala itu. Dari berbagai sumber catatan-catatan pedagang Portugis di abad ke 17, ‘Makassar’ dikenal sebagai pusat kota kerajaan Gowa-Tallo. Meski sempat berganti nama menjadi Ujung Pandang, namun Pemerintah bersepakat mengembalikan nama Makassar, karena punya akar historis yang kuat.

Apa yang dimimpikan raja Tallo pun jadi kenyataan. Usai masuk islam, Kerajaan Gowa Tallo, menjadi salah satu sebab utama penyebaran Islam ke penjuru kota dan kerajaan di Sulawesi. ‘Cahaya’ Islam menyebar cepat hingga saat ini dapat dirasakan, Islam merupakan agama mayoritas di Sulsel.

Sementara Datuk Ri Bandang, bersama dia saudaranya Datuk Ri Tiro dan Datuk Sulaiman tercatat dalam sejarah sebagai ulama yang berpengaruh besar, menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan. Hingga akhir hayatnya, Datuk Ri Bandang tak pulang lagi ke Minangkabau. Datuk Ri Bandang wafat di kota Makassar, makamnya terletak di jalan Sinassara, Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo, Kota Makassar.

Selamat datang di Masterceme
Hanya 1 user id bisa memainkan 7 jenis permainan.
Minimal Deposit & Withdraw hanya 25.000/50.000
Bonus New Member 20%
Bonus Deposit Harian
Bonus Referal Sebesar 20%
Link : Masterceme{dot}com
WA : +85578968600

 Daftar Sekarang

Tuesday, 7 April 2020

Cerita Rakyat dari Sulawesi Utara Sigarlaki dan Limbat

12:58 0 Comments
Masterceme, Kisah - Pada jaman dahulu di Tondano (Minahasa, Sulawesi Utara) hiduplah seorang pemburu perkasa yang bernama Sigarlaki. Ia sangat terkenal dengan keahliannya menombak. Tidak satupun sasaran yang luput dari tombakannya.

Cerita Rakyat dari Sulawesi Utara Sigarlaki dan Limbat

Sigarlaki mempunyai seorang pelayan yang sangat setia yang bernama Limbat. Hampir semua pekerjaan yang diperintahkan oleh Sigarlaki dikerjakan dengan baik oleh Limbat. Meskipun terkenal sebagai pemburu yang handal, pada suatu hari mereka tidak berhasil memperoleh satu ekor binatahttps://bit.ly/2OEVHehng buruan. Kekesalannya akhirnya memuncak ketika Si Limbat melaporkan pada majikannya bahwa daging persediaan mereka di rumah sudah hilang dicuri orang.

Tanpa pikir panjang, si Sigarlaki langsung menuduh pelayannya itu yang mencuri daging persediaan mereka. Si Limbat menjadi sangat terkejut. Tidak pernah diduga majikannya akan tega menuduh dirinya sebagai pencuri.

Lalu Si Sigarlaki meminta Si Limbat untuk membuktikan bahwa bukan dia yang mencuri. Caranya adalah Sigarlaki akan menancapkan tombaknya ke dalam sebuah kolam. Bersamaan dengan itu Si Limbat disuruhnya menyelam. Bila tombak itu lebih dahulu keluar dari kolam berarti Si Limbat tidak mencuri. Apabila Si Limbat yang keluar dari kolam terlebih dahulu maka terbukti ia yang mencuri.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Syarat yang aneh itu membuat Si Limbat ketakutan. Tetapi bagaimanapun juga ia berkehendak untuk membuktikan dirinya bersih. Lalu ia pun menyelam bersamaan dengan Sigarlaki menancapkan tombaknya.

Baru saja menancapkan tombaknya, tiba-tiba Sigarlaki melihat ada seekor babi hutan minum di kolam. Dengan segera ia mengangkat tombaknya dan dilemparkannya ke arah babi hutan itu. Tetapi tombakan itu luput. Dengan demikian seharusnya Si Sigarlaki sudah kalah dengan Si Limbat. Tetapi ia meminta agar pembuktian itu diulang lagi.

Dengan berat hati Si Limbat pun akhirnya mengikuti perintah majikannya. Baru saja menancapkan tombaknya di kolam, tiba-tiba kaki Sigarlaki digigit oleh seekor kepiting besar. Iapun menjerit kesakitan dan tidak sengaja mengangkat tombaknya. Dengan demikian akhirnya Si Limbat yang menang. Ia berhasil membuktikan dirinya tidak mencuri. Sedangkan Sigarlaki karena sembarangan menuduh, terkena hukuman digigit kepiting besar.

Selamat datang di Masterceme
Hanya 1 user id bisa memainkan 7 jenis permainan.
Minimal Deposit & Withdraw hanya 25.000/50.000
Bonus New Member 20%
Bonus Deposit Harian
Bonus Referal Sebesar 20%
Link : Masterceme{dot}com
WA : +85578968600

 Daftar Sekarang

Sunday, 5 April 2020

Legenda Rangkayo Hitam Yang Sakti

12:25 0 Comments
Masterceme, Legenda - Rangkayo Hitam merupakan seorang Raja Melayu Jambi yang sangat pemberani dan sakti, saat pemerintahan kerajaan dibawah kepemimpinan kakaknya Rangkayo Pingai, Rangkayo Hitam pernah mencegat upeti yang dikirimkan kakaknya kepada kerajaan Mataram yang waktu itu Kerajaan Melayu Jambi merupakan daerah jajahan kerajaan Mataram. Upeti itu berhasil digagalkan oleh Rangkayo Hitam, karena beliau berpendapat bahwa Kerajaan Melayu Jambi merupakan Kerajaan yang berdaulat dan tidak tunduk kepada Kerajaan manapun..

Legenda Rangkayo Hitam Yang Sakti

Mendengar adanya gejolak di Kerajaan Melayu Jambi yang tidak mau mengirimkan upeti ke Kerajaan Mataram dan tentang adanya seorang sakti bernama Rangkayo Hitam yang menggegalkan Upeti tersebut, maka Raja Mataram merencanakan akan melakukan penyerangan ke kerajaan Melayu yang disebut serangan Pamalayu dan segera memerintahkan seorang empu untuk membuat sebuah keris sakti yang akan digunakan untuk membunuh Rangkayo Hitam.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Mendengar hal tersebut, Rangkayo Hitam berangkat menuju Kerajaan Mataram untuk menggagalkan rencana tersebut. Di daerah mataram Rangkayo Hitam bertemu dengan seorang empu yang sedang membuat keris. Rangkayo Hitam bertanya kepada empu untuk siapa keris tersebut, empu itupun menjelaskan bahwa keris tersebut untuk Raja Mataram yang katanya akan digunakan untuk membunuh seorang sakti di Kerajaan Melayu Jambi yang bernama Rangkayo Hitam, saat itu empu juga menjelaskan bahwa keris tersebut dibuat dari tujuh macam besi yang diawali oleh huruf P, dan akan sempurna bila telah dimandikan di tujuh muara.

Rangkayo Hitam pun saat itu juga merebut keris tersebut dari tangan sang empu, dan mengatakan bahwa dialah Rangkayo Hitam. Empu itupun akhirnya tewas di tangan Rangkayo Hitam. Setelah mendapatkan keris, Rangkayo Hitam segera kembali ke Kerajaan Melayu untuk menyiapkan segala sesuatu jika nanti kerajaan Mataram jadi menyerang dan segera ia menyempurnakan keris tersebut di tujuh muara.. Hingga keris tersebut menjadi senjata sakti bagi Rangkayo Hitam.

Rangkayo Hitam sering meletakkan keris tersebut di sanggul rambutnya sehingga orang-orang sering menyebutnya dengan sebutan “Ginjai” yang berarti tusuk konde. Sampai akhirnya keris tersebut diberi nama Keris SIGINJAI.
Struktur Keris Siginjai

1. Bilah Keris (Wilahan)

Bilah keris, yang dalam istilah perkerisan disebut wilahan, adalah bagian utama dari keris. Walaupun wilahan mempunyai bentuk yang beraneka ragam, namun dapat dikelompokkan menjadi dua tipe (dapur), yaitu tipe lurus (dapur leres) dan berkelok (dapur luk). Pada wilahan terdapat gambar atau lukisan yang disebut pamor yang merupakan lambang kesaktian atau kekeramatan keris. Sedangkan, pada pangkal wilahan terdapat ganja, yaitu sudut runcing yang mengarah ke arah mata keris.

Bilah Keris Siginjai panjangnya lebih kurang 39 sentimeter dan berlekuk (luk) 5. Permukaan bilah Keris Siginjai kemungkinan pada mulanya ditutupi lapisan emas murni karena pada saat ini masih terlihat adanya bekas lapisan emas yang terlepas. Lapisan emas itu berfungsi untuk memperindah keris dan yang lebih utama untuk menutupi pamor pada keris yang bermotif flora. Pamor keris ini semakin ke ujung semakin kabur. Pada lekuk pertama hingga keempat pamor itu tampak jelas, namun pada lekuk kelima sampai ke mata keris, pamornya sudah tidak jelas lagi.

Keris Siginjai memiliki dua buah buah ganja, yang salah satunya melengkung ke arah mata keris. Sedangkan, pada sisi terlebar pangkal bilah keris terdapat bentukan yang menjorok ke luar dan memiliki 6 buah tonjolan yang ujungnya runcing, mirip dengan senjata penjepit pada binatang kalajengking. Tonjolan yang terbesar disebut belalai gajah atau keluk kacang.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

2. Hulu Keris

Hulu (gagang) Keris Siginjei terbuat dari kayu kemuning yang bagian kepalanya dibuat menjorok ke arah permukaan badan keris. Sedangkan, pada bagian yang dekat dengan wilahan terdapat mendak1 yang berbentuk kelopak bunga teratai. Di atas mendak terdapat 16 buah garis lengkung yang di setiap lengkungannya dipasang sebuah batu mulia, yang terdiri dari 8 buah intan berbentuk segi tiga dan 8 buah berlian berbentuk lonjong (oval). Di bawah setiap intan dan berlian terdapat bidang lengkung yang semakin menyempit ke arah bilah keris. Pada permukaan bidang lengkung tersebut dilapisi dengan emas murni dan diukir hiasan bunga-bunga kecil. Dan, di atas garis lengkung itu terdapat jalinan berbentuk benang-benang email warna hijau dan kuning.

3. Sarung Keris (Wrangka)

Wrangka keris Siginjai terbuat dari kayu kemuning. Sedangkan, pendok2 keris terbuat dari lempengan emas murni yang seluruh permukaannya dihiasi dengan ukiran bermotif flora. Pada wrangka Keris Siginjai ini juga terdapat gayaman berbentuk perahu agak kecil tetapi tebal. Di dekat gambar perahu terdapat lengkungan yang berbentuk sedikit bundar.

Selamat datang di Masterceme
Hanya 1 user id bisa memainkan 7 jenis permainan.
Minimal Deposit & Withdraw hanya 25.000/50.000
Bonus New Member 20%
Bonus Deposit Harian
Bonus Referal Sebesar 20%
Link : Masterceme{dot}com
WA : +85578968600

 Daftar Sekarang

Friday, 3 April 2020

Asal Mula Nama Kota Dumai Dan Legenda Putri Tujuh yang Cantik

15:56 0 Comments
Masterceme, Legenda - Kota Dumai adalah sebuah kota di Provinsi Riau, Indonesia, sekitar 188 km dari Kota Pekanbaru.Dumai adalah kota dengan wilayah administrasi terluas ketiga di Indonesia, setelah Kota Palangka Raya dan Kota Tidore Kepulauan. Kota ini berawal dari sebuah dusun kecil di pesisir timur Provinsi Riau.

Asal Mula Nama Kota Dumai Dan Legenda Putri Tujuh yang Cantik

Ada dua tradisi yang sejak lama berkembang di kalangan masyarakat kota Dumai yaitu tradisi tulisan dan lisan. Salah satu tradisi lisan yang sangat populer di daerah ini adalah cerita-cerita rakyat yang dituturkan secara turun-temurun. 

Sampai saat ini, Kota Dumai masih menyimpan sejumlah cerita rakyat yang digemari dan memiliki fungsi moral yang amat penting bagi kehidupan masyarakat, misalnya sebagai alat pendidikan, pengajaran moral, hiburan, dan sebagainya.  Salah satu cerita rakyat yang masih berkembang di Dumai adalah Legenda Putri Tujuh. Cerita legenda ini mengisahkan tentang asal-mula nama Kota Dumai.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Konon, pada zaman dahulu kala, di daerah Dumai berdiri sebuah kerajaan bernama Seri Bunga Tanjung. Kerajaan ini diperintah oleh seorang Ratu yang bernama Cik Sima. Ratu ini memiliki tujuh orang putri yang elok nan rupawan, yang dikenal dengan Putri Tujuh. Dari ketujuh putri tersebut, putri bungsulah yang paling cantik, namanya Mayang Sari. 

Putri Mayang Sari memiliki keindahan tubuh yang sangat mempesona, kulitnya lembut bagai sutra, wajahnya elok berseri bagaikan bulan purnama, bibirnya merah bagai delima, alisnya bagai semut beriring, rambutnya yang panjang dan ikal terurai bagai mayang. Karena itu, sang Putri juga dikenal dengan sebutan Mayang Mengurai.

Pada suatu hari, ketujuh putri itu sedang mandi di lubuk Sarang Umai. Karena asyik berendam dan bersendau gurau, ketujuh putri itu tidak menyadari ada beberapa pasang mata yang sedang mengamati mereka, yang ternyata adalah Pangeran Empang Kuala dan para pengawalnya yang kebetulan lewat di daerah itu.

Mereka mengamati ketujuh putri tersebut dari balik semak-semak. Secara diam-diam, sang Pangeran terpesona melihat kecantikan salah satu putri yang tak lain adalah Putri Mayang Sari. Tanpa disadari, Pangeran Empang Kuala bergumam lirih, “Gadis cantik di lubuk Umai….cantik di Umai. Ya, ya…..d‘umai…d‘umai….” Kata-kata itu terus terucap dalam hati Pangeran Empang Kuala. Rupanya, sang Pangeran jatuh cinta kepada sang Putri. Karena itu, sang Pangeran berniat untuk meminangnya.

Beberapa hari kemudian, sang Pangeran mengirim utusan untuk meminang putri itu yang diketahuinya bernama Mayang Mengurai. Utusan tersebut mengantarkan tepak sirih sebagai pinangan adat kebesaran raja kepada Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Pinangan itu pun disambut oleh Ratu Cik Sima dengan kemuliaan adat yang berlaku di Kerajaan Seri Bunga Tanjung. 

Sebagai balasan pinangan Pangeran Empang Kuala, Ratu Cik Sima pun menjunjung tinggi adat kerajaan yaitu mengisi pinang dan gambir pada combol paling besar di antara tujuh buah combol yang ada di dalam tepak itu. Enam buah combol lainnya sengaja tak diisinya, sehingga tetap kosong. Adat ini melambangkan bahwa putri tertualah yang berhak menerima pinangan terlebih dahulu.

Mengetahui pinangan Pangerannya ditolak, utusan tersebut kembali menghadap kepada sang Pangeran. “Ampun Baginda Raja! Hamba tak ada maksud mengecewakan Tuan. Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung belum bersedia menerima pinangan Tuan untuk memperistrikan Putri Mayang Mengurai.” Mendengar laporan itu, sang Raja pun naik pitam karena rasa malu yang amat sangat. Sang Pangeran tak lagi peduli dengan adat yang berlaku di negeri Seri Bunga Tanjung. 

Amarah yang menguasai hatinya tak bisa dikendalikan lagi. Sang Pangeran pun segera memerintahkan para panglima dan prajuritnya untuk menyerang Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Maka, pertempuran antara kedua kerajaan di pinggiran Selat Malaka itu tak dapat dielakkan lagi.

Di tengah berkecamuknya perang tersebut, Ratu Cik Sima segera melarikan ketujuh putrinya ke dalam hutan dan menyembunyikan mereka di dalam sebuah lubang yang beratapkan tanah dan terlindung oleh pepohonan. Tak lupa pula sang Ratu membekali ketujuh putrinya makanan yang cukup untuk tiga bulan. Setelah itu, sang Ratu kembali ke kerajaan untuk mengadakan perlawanan terhadap pasukan Pangeran Empang Kuala. 

Sudah 3 bulan berlalu, namun pertempuran antara kedua kerajaan itu tak kunjung usai. Setelah memasuki bulan keempat, pasukan Ratu Cik Sima semakin terdesak dan tak berdaya. Akhirnya, Negeri Seri Bunga Tanjung dihancurkan, rakyatnya banyak yang tewas. Melihat negerinya hancur dan tak berdaya, Ratu Cik Sima segera meminta bantuan jin yang sedang bertapa di bukit Hulu Sungai Umai.

Pada suatu senja, pasukan Pangeran Empang Kuala sedang beristirahat di hilir Umai. Mereka berlindung di bawah pohon-pohon bakau. Namun, menjelang malam terjadi peristiwa yang sangat mengerikan. Secara tiba-tiba mereka tertimpa beribu-ribu buah bakau yang jatuh dan menusuk ke badan para pasukan Pangeran Empang Kuala. 

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Tak sampai separuh malam, pasukan Pangeran Empang Kaula dapat dilumpuhkan. Pada saat pasukan Kerajaan Empang Kuala tak berdaya, datanglah utusan Ratu Cik Sima menghadap Pangeran Empang Kuala.

Melihat kedatangan utusan tersebut, sang Pangeran yang masih terduduk lemas menahan sakit langsung bertanya, “Hai orang Seri Bunga Tanjung, apa maksud kedatanganmu ini?”. Sang Utusan menjawab, “Hamba datang untuk menyampaikan pesan Ratu Cik Sima agar Pangeran berkenan menghentikan peperangan ini. Perbuatan kita ini telah merusakkan bumi sakti rantau bertuah dan menodai pesisir Seri Bunga Tanjung. 

Siapa yang datang dengan niat buruk, malapetaka akan menimpa, sebaliknya siapa yang datang dengan niat baik ke negeri Seri Bunga Tanjung, akan sejahteralah hidupnya,” kata utusan Ratu Cik Sima menjelaskan. Mendengar penjelasan utusan Ratu Cik Sima, sadarlah Pangeran Empang Kuala, bahwa dirinyalah yang memulai peperangan tersebut. Pangeran langsung memerintahkan pasukannya agar segera pulang ke Negeri Empang Kuala.

Keesokan harinya, Ratu Cik Sima bergegas mendatangi tempat persembunyian ketujuh putrinya di dalam hutan. Alangkah terkejutnya Ratu Cik Sima, karena ketujuh putrinya sudah dalam keadaan tak bernyawa. Mereka mati karena haus dan lapar. 

Ternyata Ratu Cik Sima lupa, kalau bekal yang disediakan hanya cukup untuk tiga bulan. Sedangkan perang antara Ratu Cik Sima dengan Pangeran Empang Kuala berlangsung sampai empat bulan.

Akhirnya, karena tak kuat menahan kesedihan atas kematian ketujuh putrinya, maka Ratu Cik Sima pun jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Sampai kini, pengorbanan Putri Tujuh itu tetap dikenang dalam sebuah lirik:

Umbut mari mayang diumbut
Mari diumbut di rumpun buluh
Jemput mari dayang dijemput
Mari dijemput turun bertujuh 

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Ketujuhnya berkain serong
Ketujuhnya bersubang gading
Ketujuhnya bersanggul sendeng
Ketujuhnya memakai pending

Sejak peristiwa itu, masyarakat Dumai meyakini bahwa nama kota Dumai diambil dari kata “d‘umai” yang selalu diucapkan Pangeran Empang Kuala ketika melihat kecantikan Putri Mayang Sari atau Mayang Mengurai. Di Dumai juga bisa dijumpai situs bersejarah berupa pesanggarahan Putri Tujuh yang terletak di dalam komplek kilang minyak PT Pertamina Dumai. 

Selain itu, ada beberapa nama tempat di kota Dumai yang diabadikan untuk mengenang peristiwa itu, di antaranya: kilang minyak milik Pertamina Dumai diberi nama Putri Tujuh; bukit hulu Sungai Umai tempat pertapaan Jin diberi nama Bukit Jin. Kemudian lirik Tujuh Putri sampai sekarang dijadikan nyanyian pengiring Tari Pulai dan Asyik Mayang bagi para tabib saat mengobati orang sakit.

Selamat datang di Masterceme
Hanya 1 user id bisa memainkan 7 jenis permainan.
Minimal Deposit & Withdraw hanya 25.000/50.000
Bonus New Member 20%
Bonus Deposit Harian
Bonus Referal Sebesar 20%
Link : Masterceme{dot}com
WA : +85578968600

 Daftar Sekarang

Wednesday, 1 April 2020

Cerita Legenda Awan Garang Si panglima Bermata Satu

16:55 0 Comments
Masterceme, Legenda - berapa abad yang lalu, di sebuah daerah di pesisir Riau, hiduplah seorang pemuda miskin yang bernama Awang Garang. Kegiatan sehari-harinya menangkap ikan di karang pantai. Sejak kecil, ia bercita-cita ingin menguasai laut. Untuk meraih cita-citanya itu, ia rela menjadi tukang masak pada sebuah kapal layar, meskipun tidak dibayar, agar dapat ikut berlayar mengarungi selat dan lautan di sekitar Kepulauan Segantang Lada. Sifatnya yang rajin, membuat para Datuk dan Batin sayang kepada Awang Garang. Ia bahkan dipercaya menjadi pembantu tukang kapal.

Cerita Legenda Awan Garang Si panglima Bermata Satu

Suatu hari, Sultan Riau memerintahkan para Datuk dan Batin untuk membuat penjajap.Pembuatan penjajap itu Sultan mempercayakannya kepada tujuh Datuk dan Batin di Temiang, Moro Sulit, Sugi, Bulang, Pekaka, Sekanan, dan Mepar. Tidak ketinggalan pula Awang Garang dalam kegiatan itu. Tempat pembuatannya disepakati bersama di sebuah pulau antara Bulang Rempang dan Bintan.

Sudah tiga bulan pembuatan kapal itu berlangsung, namun tidak ada tanda-tanda kapal itu akan berbentuk. Bahan kayu sudah berkali-kali diganti, dari kayu medang tanduk berganti kayu medang tembaga, namun tetap juga tidak menampakkan hasil. Para Datuk dan Batin mulai cemas. Mereka khawatir Sultan akan murka mendengar kegagalan tersebut.

Di tengah rasa cemas itu, tiba-tiba Awang Garang angkat bicara. “Maaf, Tuan-tuan! Sepengetahuan saya, pembuatan kapal perang itu harus memakai tiga jenis kayu untuk satu kapal,” ucapan Awang Garang mengejutkan semua Datuk dan Batin. “Hai Awang, janganlah asal bicara! Apakah kata-katamu itu dapat dipertanggungjawabkan?” tanya seorang Datuk. “Apabila kata-katamu tidak terbukti, maka hukuman berat akan kamu terima,” sambung seorang Batin dengan nada mengancam. “Baiklah, Tuan-tuan. Akan saya buktikan bahwa perkataan saya benar,” kata Awang Garang dengan penuh keyakinan.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Keesokan harinya, para tukang sibuk mempersiapkan tiga jenis kayu seperti yang diusulkan oleh Awang Garang. Papan kapal mereka buat dari kayu medang sirai. Kerangka dalam perahu yang berbentuk seperti gading, mereka buat dari kayu penaga. Sementara lunas kapal itu mereka buat dari kayu keledang. Setelah tiga bulan, pembuatan kapal itu tampak mendekati selesai. Sultan yang menerima kabar itu sangat senang dan melipatgandakan pembayarannya. Tukang-tukang pun semakin giat bekerja.

Pada suatu hari, ketika Awang Garang sedang mengawasi tukang yang sedang memotong kayu, tiba-tiba tatal kayu terlempar dan mengenai mata kanannya. “Ya, Allah, pecah bola mataku,” jerit Awang Gerang menahan sakit. Tanpa disadari, tiba-tiba ia berkata dengan nada kesal, “Dasar kapal sial, kusumpah kapal ini tidak bisa diturunkan ke laut!”

Mata kanannya yang buta itu ia tutupi dengan penutup mata berwarna hitam. Awang Garang pun pergi meninggalkan pekerjaannya sebagai pembantu tukang penjajap. Ia kembali ke desanya menjalani kehidupannya seperti semula yaitu menangkap ikan di karang pantai.

Dua bulan setelah ditinggalkan Awang Garang, pembuatan penjajap itu pun selesai. Akhirnya tibalah saatnya untuk diturunkan ke laut. Seluruh tukang telah dikerahkan untuk menurunkannya ke laut, namun penjajap itu tidak bergeser sedikit pun. Jangankan penjajap itu bergeser, bergerak pun tidak. Sementera Sultan telah bertitah agar penjajap itu harus segera melaut untuk menumpas para lanun yang semakin merajalela di perairan Riau. Para Datuk dan Batin mulai gelisah. Mereka khawatir mendapat murka dari Sultan.

Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba seorang Batin berbicara, “Sebaiknya kita harus memanggil Awang Garang. Ia pernah menyumpahi kapal itu sebelum meninggalkan pulau ini beberapa bulan yang lalu. Barangkali ia memiliki cara lain untuk menurunkan kapal itu ke laut.” Usulan Batin itu diterima oleh para Datuk dan Batin yang lainnya. Maka, diutuslah salah seorang Datuk untuk mencari Awang Garang dan memintanya datang ke pulau itu.

Sesampainya di rumah Awang Garang, Datuk itu mendapati Awang Garang sedang duduk di depan pintu rumahnya. “Hai, Awang Garang! Bukankah telah engkau sumpahi kapal itu agar tidak bisa melaut?” tanya Datuk kepada Awang Garang. “Kamu harus menurunkan kapal itu. Kalau tidak, hukuman berat akan kamu terima!” tambah Datuk mengancam.

 “Baiklah, Datuk! Saya bersedia menurunkan kapal itu, asalkan Datuk memenuhi persyaratannya,” jawab Awang Garang tenang. “Ya, kami bersedia memenuhi apapun persyaratan yang kamu minta,” kata Datuk dengan mantap tanpa bertanya terlebih dahulu mengenai persyaratan yang akan diajukan Awang Garang.

Mendengar persetujuan dari Datuk, Awang Garang pun segera mengajukan persyaratannya. “Dengar, Datuk! Saya mempunyai tiga persyaratan yaitu pertama, berikan tiga puluh tujuh pemuda pembantu, lengkap dengan perkakasnya. Kedua, semua Datuk dan Batin harus menyaksikan penurunan kapal itu dengan kedua mata tertutup. Ketiga, siapkan tujuh wanita yang sedang mengandung anak sulung, dan berpakaian tujuh warna. Tujuh wanita itu harus anak atau kerabat dari Datuk dan Batin sendiri.”

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Setelah mengetahui persyaratan yang diajukan Awang Garang, Datuk itu pun segera melaporkannya kepada Datuk dan Batin lainnya. Oleh karena terdesak waktu dan takut mendapat murka dari Sultan, para Datuk dan Batin pun bersedia menerima syarat-syarat tersebut, meskipun mereka rasa sangat janggal dan berat.

Setelah persyaratan dilengkapi, maka pada saat purnama, ketika air laut pasang, semua hadirin telah datang dan ditutup kedua mata mereka dengan kain. Kemudian Awang Garang membisiki tiga puluh tujuh pemuda tersebut untuk melakukan sesuatu yang tidak diketahui oleh para Datuk dan Batin. Menjelang malam tiba, terdengar bunyi peralatan berlepuk-lepuk diiringi jerit dan raung tujuh wanita yang mengandung sulung tersebut. “Tolooong… ! Jangan lindas perut kami! Tolooong…!” tangis para wanita itu. Para Datuk dan Batin yang tertutup matanya menjadi cemas, ngeri dan gelisah mendengar suara tangis tersebut.

Di tengah suasana gaduh itu, tiba-tiba Awang Garang berteriak lantang, “Semua pergi ke lambung kapal… Siaaap! Dorooong!” pekik Awang Garang. “Rrr… Rrr…,” suara lunas kapal bergeser. “Kwaaak…! Kwaaak…! Kwaaak!” terdengar tangis bayi. “Byuuur…,” terdengar suara kapal tercebur ke laut.

Para Datuk dan Batin yang masih tertutup matanya merasa penasaran ingin menyaksikan apa sebenarnya yang terjadi. Maka dibukanya tutup mata mereka. “Oh, rupanya Awang Garang memakai pohon yang dikupas kulitnya. Pakai galang kayu licin. Rupanya harus pakai galang,” kata para Datuk dan Batin bergantian.

Sementara ketujuh wanita yang mengandung sulung tersebut melahirkan anak-anak mereka dengan selamat. Mereka tidak digilas kapal seperti perkiraan para Datuk dan Batin, melainkan hanya dibaringkan di dalam lubang yang digali di bawah kapal.

Konon, delapan belas tahun kemudian, ketujuh bayi tersebut menjadi panglima penumpas lanun yang berkeliaran di perairan Riau. Mereka diberi gelar sesuai dengan warna pakaian ibu mereka pada saat melahirkan, yaitu Panglima Awang Merah, Panglima Awang Jingga, Panglima Awang Kuning, Panglima Awang Ungu, Panglima Awang Hijau, Panglima Awang Biru, dan Panglima Awang Nila.

Di bawah pimpinan Awang Garang yang bergelar Panglima Hitam Elang di Laut Bermata Satu, ketujuh panglima tersebut menjadi satu kekuatan dalam menumpas para lanun. Sejak saat itu, tidak ada lagi lanun yang berani berkeliaran di perairan Riau.

Kamus kecil :

Lanun : bajak laut, perompak laut.
Penjajap : kapal perang
Lunas : balok memanjang di dasar perahu/kapal
Berlepuk-lepuk : meletuk-letuk.

Cerita rakyat di atas merupakan cerita legenda yang berkembang di kalangan masyarakat Riau yang mengisahkan tentang asal-mula nama Palau Galang. Konon, nama pulau ini diambil kata “pakai galang”, yaitu kata-kata yang diucapkan oleh para Datuk dan Batin ketika menyaksikan Awang Garang berhasil menurunkan kapal ke laut dengan memakai galang dalam cerita rakyat di atas.

Pulau Galang merupakan sebuah daratan dalam gugusan kepulauan “Barelang” (Batam-Rempang-Galang) terletak di Desa Sijantung, Kecamatan Galang, Kota Batam. Hingga kini, Pulau Galang dikenal sebagai bekas perkampungan pengungsi Vietnam (Kamp Sinam). Masyarakat Vietnam mengungsi ke Pulau Galang, karena terjadi perang saudara antara Vietnam Utara (berhaluan komunis) dengan Vietnam Selatan (berhaluan kapitalis). Pada tanggal 30 April 1975 Vietnam Utara berhasil menguasai Vietnam Selatan, sehingga banyak masyarakatnya yang memilih mengungsi ke negara lain dengan menggunakan perahu kayu, sehingga mereka dikenal dengan “manusia perahu” (boat people).

Sejak tahun 1975 hingga 1996, tercatat ribuan pengungsi dari Vietnam memasuki wilayah Indonesia. Atas permintaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bidang Pengungsi United Nation High Commision Refugees (UNHCR) kepada pemerintah Indonesia, agar menyediakan tempat penampungan sementara untuk para pengungsi, maka Palau Galang dipilih sebagai penampungan itu dan semua biaya ditanggung oleh UNHCR.

MasterCeme Merupakan Agen Judi Poker Domino QQ CEME Capsa Susun Samgong Super10 Omaha Poker Online Indonesia Terbaik  dan Terpercaya

Pada tanggal 2 September 1996, PBB memulangkan para pengungsi ke negaranya, Vietnam, secara besar-besaran. Namun, terhitung tahun 1997, atas dasar kesepakatan international di bawah koordinasi PBB, UNHCR tidak mampu lagi menanggung biaya pengungsi. Maka, pemerintah Indonesia turun tangan memulangkan 5.000-an pengungsi yang masih tersisa ke negeri asalnya, Vietnam, melalui kegiatan operasi laut menggunakan sejumlah kapal perang. Pemulangan itu sendiri dilakukan setelah perang saudara antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan dianggap mereda.

Sejak ditinggal oleh para penghuninya (para pengungsi), Pulau Galang atau eks Kamp Sinam telah menorehkan sebuah sejarah penting tragedi kemanusiaan di jagat raya yang bernama Indonesia. Kesediaan Indonesia menerima dan menyiapkan tempat tinggal para pengungsi Vietnam tersebut menunjukkan sikap penghargaan atas Hak Asasi Manusia (HAM), yang berhak hidup secara layak dan damai di muka bumi. Walaupun demikian, UNHCR tetap memiliki peran yang sangat penting bagi pengungsi tersebut, yang telah menyediakan rumah, tempat ibadat, jalan, kamp atau barak-barak penampungan, sekolah, rumah sakit dan sebagainya di Pulau Galang.

Kini, kawasan Pulau Galang berubah menjadi objek wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi. Nilai historis yang ada di Pulau Galang terlihat dari peninggalan-peninggalan bekas pengungsi Vietnam, seperti makam pengungsi, youth center, dan beberapa tampat ibadah serta patung raksasa Dewi Kwan Im atau Quan Nam Im.

Selamat datang di Masterceme
Hanya 1 user id bisa memainkan 7 jenis permainan.
Minimal Deposit & Withdraw hanya 25.000/50.000
Bonus New Member 20%
Bonus Deposit Harian
Bonus Referal Sebesar 20%
Link : Masterceme{dot}com
WA : +85578968600

 Daftar Sekarang

Follow Us @soratemplates